Antisipasi Oknum Jahil, Pengunjung Manunggal Fair Bakal Diawasi CCTV

Ilustrasi gambar yang terekam CCTV - Harian Jogja/Yogi Anugrah
21 September 2019 00:37 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, WATES - Pengunjung Manunggal Fair 2019 yang akan digelar pada 27 September sampai 6 Oktober 2019 mendatang bakal diawasi secara intensif. Ini dilakukan agar Taman Budaya Kulonprogo (TBK) yang menjadi salah satu lokasi acara tidak dirusak oleh oknum jahil. Satu hal yang paling dikhawatirkan yaitu munculnya aksi vandalisme.

Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Aneka Usaha Kulonprogo, yang ditunjuk sebagai panitia Manunggal Fair 2019 akan mengoptimalkan tugas penjaga keamanan dan kinerja CCTV untuk memantau pergerakan pengunjung. Sejumlah papan imbauan juga akan dipasang di sejumlah titik di TBK.

"Di setiap sudut yang minim penenerangan juga akan kami pasangi lampu biar kalau ada perbuatan yang tidak seharusnya dapat terpantau, salah satunya itu vandalisme," ujar Direktur Perumda Aneka Usaha Kulonprogo, Suharyanto dalam jumpa pers persiapan Manunggal Fair 2019 di Ruang Binangun IV Kompleks Pemkab Kulonprogo, Jumat (20/9/2019).

Pengawasan ini sebagai tindak lanjut atas komitmen panitia dengan Dinas Kebudayaan DIY. Untuk diketahui, pengelolaan TBK masih ada di ranah provinsi dan belum diserahterimakan ke Pemkab Kulonprogo.

Adapun dalam komitmen itu setiap ada kerusakan di TBK gara-gara Manunggal Fair, maka panitia wajib mengganti atau memperbaikinya.

"Ada tanggung jawab fisik dan moral untuk jaga gedung tersebut. Kami diminta Dinas Kebudayaan DIY untuk membuat komitmen, segala hal kerusakan di gedung, kami siap mengganti dan memperbaiki," ujarnya.

Komitmen ini juga yang membikin panitia hati-hati perihal penataan stan baik yang ada di dalam gedung maupun halaman TBK. "Untuk stan juga kami desain agar tidak merusak bangunan, jadi pemasangannya tidak asal, kami usahakan seminimal mungkin ada kerusakan," ujarnya.

Dijelaskannya Manunggal Fair 2019 menyediakan 282 stan, di mana 52 di antaranya diperuntukkan bagi OPD yang seluruhnya sudah terisi. Jumlah stan OPD mengalami peningkatan dari tahun lalu yang hanya 39 stan. Dari 230 stan untuk swasta, 130 di antaranya sudah terisi, sementara 100 stan lain masih kosong. 100 stan ini diperuntukkan bagi para pelaku usaha kuliner, namun sebagian besar tidak lolos seleksi karena terbentur aturan.

Dia mengatakan untuk menjaga TBK tetap bersih dan aman, penyewa stan kuliner tidak diperbolehkan menggunakan kompor berikut aktivitas memasak. "Mereka diminta memasarkan makanan yang sudah jadi, tapi karena ada aturan itu maka banyak yang kemudian mundur," kata Suharyanto. Para penyewa stan lanjutnya diharuskan menjaga kebersihan dan keamanan gedung TBK dari kerusakan.

Suharyanto menerangkan dalam penataan tempat, TBK diperuntukkan bagi stan-stan OPD, swasta, dan pangung hiburan yang tidak berpotensi merusak lantai dan tidak menimbulkan suara bising. Sementara di Lapangan Pengasih yang juga dijadikan sebagai lokasi acara hanya dikhususkan untuk hiburan rakyat berupa wahana permainan.

"Sejujurnya kami belum berani kalau yang di TBK itu ditempati oleh masyarakat umum [penyewa] stan karena takutnya tidak terjaga, oleh karena itu kami pilih OPD dan swasta yang menurut kami bisa sama-sama mejaga TBK," tuturnya.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kulonprogo, Rudiyatna mengatakan, Manunggal Fair tahun ini mengambil tema Jumpalitan yang merupakan kependekan dari jumpa Metropolitan. Ini dimaknai menyapa masa depan Kulonprogo dengan masifnya pembangunan. Jumpalitan juga menjadi perumpamaan pengunjung yang jumpalitan di dua lokasi penyelenggaraan Manunggal Fair

Dijelaskannya pameran tersebut akan menyemarakkan peringatan hari jadi ke-68 Kabupaten Kulonprogo. Lewat kegiatan ini, pemerintah kabupaten Kulonprogo ingin menunjukkan kepada masyarakat ihwal potensi daerah dan kesuksesan yang sudah dicapai.