Atasi Kekeringan, Masyarakat Gunungkidul Ingin Solusi Jangka Panjang

Anggota TNI yang dipimping Komandan Kodim 0730/Gunungkidul Letkol Inf Noppi Laksana Armiyanto saat meninjau lokasi Sumber Pulejajar, Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo, Jumat (12/7/2019). - Harian Jogja/David Kurniawan
22 September 2019 20:17 WIB Rahmat Jiwandono Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Masyarakat di Gunungkidul ingin solusi jangka panjang terkait dengan masalah kekeringan terjadi tiap tahun. Di Kecamatan Tepus, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warga terpaksa mengandalkan air yang dibeli dari pedagang swasta. Dengan harga per tangki yang mencapai Rp150.000, warga merasa sangat keberatan.

"Kami membutuhkan satu tangki air berkapasitas 5.000 liter untuk mencukupi kebutuhan pokok seperti MCK selama sebulan," ucap Wahadi, warga Dusun Tepus II, Desa Tepus, Kecamatan Tepus, Minggu, (22/9/2019).

Wahadi mengatakan jika potensi sungai bawah tanah yang ada di Tepus bisa dinaikkan, maka air tersebut dapat memenuhi kebutuhan warga sekitar. Menurutnya, di Kecamatan Tepus banyak terdapat gua dan luweng yang menyimpan air bersih dan bisa dimanfaatkan. "sayangnya sampai saat ini airnya belum bisa dinaikkan," katanya.

Dia mengaku pernah mencoba menuruni salah satu gua vertikal di Desa Tepus untuk mencari sumber air. Namun, saat sampai di kedalaman 50 meter, dia terpaksa berhenti lantaran kesulitan bernapas. "Kebetulan golok yang saya bawa terjatuh dan suaranya seperti tercebur ke dalam air. Bisa dipastikan kalau di dasar gua ada sumber air," ujarnya.

Ia berharap pemerintah mampu menaikkan air dari bawah tanah agar dapat dinikmati masyarakat. "Daripada terus menerus dropping air, pemerintah lebih baik menaikkan air yang banyak berada di gua untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Upaya seperti ini lebih efektif," katanya.

Direktur Utama PDAM Tirta Handayani, Isnawan Fibrianto, mengungkapkan terdapat program jangka pendek dan jangka panjang yang diusahakan untuk mensuplai kebutuhan air bagi masyarakat. Ada empat titik air yang dibenahi yakni sumber Gombang dengan debit 40 liter per detik; Gua Bribin dengan debit 25 liter per detik; Karangrejek 30 liter tiap detik dan Tawarsari tujuh liter per detik. "Untuk sumber di Gombang dan Bribin dengan total pasokan air 65 liter per detik kami gunakan untuk mensuplai air di wilayah Rongkop, Tepus dan sekitarnya," kata dia. Kedua sumber tersebut mampu memenuhi kebutuhan 5.200 KK atau 26.000 jiwa.

Untuk program jangka panjang, PDAM Tirta Handayani mengusulkan tujuh titik penambahan sumber air Sub Sistem Bribin dan Baron. Saat ini usulan tengah disampaikan ke Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) DIY. "Kalau sumber airnya layak dikonsumsi tentunya kami jadikan sumber," katanya.