Hantavirus Belum Ditemukan di Gunungkidul, Warga Tetap Diminta Waspada
Dinas Kesehatan Gunungkidul memastikan belum ada kasus hantavirus, namun warga diminta menjaga kebersihan dan waspada penularan.
Seorang pengendara melintas di rambu-rambu peringatan tentang pembangunan cor blok menuju Embung Sriten di Desa Pilangrejo, Kecamatan Nglipar, Gunungkidul, Kamis (29/11/2018)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemkab Gunungkidul berupaya mengembangkan destinasi wisata di sektor utara sejak beberapa tahun terakhir. Guna mengoptimalkan pengembangan diharapkan akses antara satu destinasi dengan destinasi lainnya terus diperbaiki.
Anggota DPRD Gunungkidul dari Fraksi Gerindra, Eko Rustanto, mengatakan destinasi wisata di sektor utara saat ini mulai menggeliat. Meski demikian, keberadaanya masih kalah pamor dibandingkan dengan destinasi di sektor selatan. Padahal, dari sisi potensi tidak kalah karena sejumlah objek telah dikembangkan seperti Gunung Api Purba Nglanggeran, Embung Batara Sriten hingga petilasan Pangeran Sambernyowo di Gunung Gambar, Desa Kampung, Kecamatan Ngawen. Sayangnya, hingga saat ini belum ada akses penghubung sejumlah objek wisata itu.
Dia mencontohkan antara Gunung Gambar dan Embung Batara Sriten. Eko menjelaskan keberadaan jalan penghubung sangat penting karena memberikan kemudahan bagi para pengunjung. “Kalau tidak ada jalan penghubung maka wisatawan kesulitan untuk menjangkau destinasi wisata yang ada,” kata Eko, Selasa (24/9/2019).
DPRD Gunungkidul, menurut Eko, telah mengusulkan adanya akses penghubung antara Embung Batara Sriten dan Gunung Gambar ke Pemkab. Pembangunan jalan sangat mungkin dilakukan karena dasar jalan sudah ada sehingga tinggal diperbaiki. “Jalannya sudah ada, tapi masih sempit dan kondisinya rusak sehingga butuh perbaikan,” katanya.
Menurut Eko, dari sisi potensi kedua objek ini memiliki keunggulan sehingga patut untuk terus dikembangkan. Ia menyakini apabila kedua objek wisata ini bisa terhubung, maka pengembangan lebih mudah karena keberadaannya saling terintergrasi. “Saya yakin akan maju, apalagi di tengah-tengahnya ada petilasan yang memiliki potensi untuk pengembangan wisata religi,” katanya.
Kepala Dinas Pariwisata Gunungkidul, Asti Wijayanti, mengatakan jajarannya berkomitmen untuk pengembangan destinasi wisata di sektor utara. Hal ini dilakukan untuk memberikan alternatif pilihan kepada wisatawan. “Banyak destinasi yang muncul dan sudah dikunjungi wisatawan,” kata Asti.
Meski demikian, dia tidak menampik saat ini fokus kunjungan masih berada di sektor selatan, khususnya di kawasan pantai. Hal itu terlihat dari jumlah kunjungan wisatawan yang masuk. “Kami terus berupaya agar sektor utara bisa dikenal masyarakat secara luas,” katanya.
Untuk pengembangan di sektor utara sudah menyiapkan beberapa program seperti pelaksanaan Festival Sriten di Embung Batara Sriten. “Kami juga ada gelaran Geopark Night Specta di Gunung Api Purba Nglanggeran. Kondisi geografis wilayah utara Gunungkidul yang didominasi perbukitan menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan, khususnya menyangkut akses,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinas Kesehatan Gunungkidul memastikan belum ada kasus hantavirus, namun warga diminta menjaga kebersihan dan waspada penularan.
Harga emas Pegadaian hari ini Kamis 21 Mei 2026 turun. Emas Antam jadi Rp2,862 juta, UBS Rp2,797 juta, dan Galeri24 Rp2,756 juta.
KA Prameks kembali padat penumpang Senin ini, cek jadwal lengkap rute Jogja–Kutoarjo.
Imigrasi Sulsel menemukan WNA asal Filipina dan Malaysia memakai KTP Indonesia untuk mengurus paspor RI di sejumlah daerah.
Prabowo Subianto menegaskan pemerintah siap memakai radar dan satelit untuk melacak aset ilegal serta memburu koruptor hingga bungker bawah tanah.
Jadwal DAMRI Bandara YIA Kamis 21 Mei 2026 melayani rute Jogja dan Sleman dengan tarif Rp80.000 serta konektivitas antarmoda.