Perkembangan Teknologi Lahirkan Fenomena Digital Islam

Ilustrasi Buku - Reuters
06 Oktober 2019 07:17 WIB Rahmat Jiwandono Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Perkembangan teknologi memberikan dampak pada praktik beragama. Salah satunya muncul fenomena digital Islam yang terungkap dalam 19th Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) yang digelar di Jakarta belum lama ini.

Ketua AICS Profesor Noorhaidi mengatakan, dalam konferensi itu didiskusikan banyak hasil riset yang mengungkap temuan menarik terkait kehidupan beragama di negara berpenduduk muslim. Khususnya di era disrupsi teknologi yang ditandai dengan hadirnya era revolusi industri 4.0 membawa perubahan signifikan dalam kehidupan beragama.

"Teknologi digital membuat pemahaman dan praktek keberagamaan Islam telah berubah secara signifikan," katanya dalam rilisnya, Sabtu (5/10/2019).

Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga ini menambahkan, saat ini di banyak negara telah mengalami fenomena digital Islam. Fenomena yang terjadi di negara berpenduduk muslim ini sebagai akibat persinggungan Islam dengan pluralisme dan demokratisasi.

Digital Islam telah meniupkan angin baru dalam keyakinan dan praktik, yang sering bertentangan dengan otoritas tradisional Islam yang selama ini dominan. Digital Islam tidak hanya mencakup Islam daring, tetapi ini tentang model baru, suara baru, format dan gaya baru yang identik dengan era milenial. “Pada zaman ini telah timbul genre baru yang mengintegrasikan Islam dengan gaya hidup neoliberal” jelasnya.

Saat ini, para pelaku agama Islam dari berbagai latar belakang telah menampilkan wacana dan diskusi baru yang mengkontekstualisasikan Islam dalam penerapannya di segala bidang. Hal ini membawa implikasi penting, baik bersifat positif dan negatif. Di antara pelaku neo Islam ini tidak memiliki akar keagamaan yang baik dan implikasinya memanipulasi simbol dan ritual keagamaan.

"Dalam platform digital yang sama, semua aliran mengekspresikan diri. Maka secara umum agama Islam meraup lebih banyak penonton dan kemudian mendapat legitimasi politik secara lebih kuat," katanya.

Dalam lingkup digital Islam, kaum muda rupanya memiliki peran yang lebih besar dari era sebelumnya. Mereka tampil sebagai tren di lingkup global yang secara nyata mengkontektualisasi Islam dengan gayanya. Hal ini bukan tanpa ekses karena di era digital memungkinkan banyak hal buruk terjadi, termasuk radikalisme dan terorisme.

Direktur Pendidikan Tinggi Islam Ditjen Pendidikan Islam Kemenag Arskal Salim,menyatakan AICIS telah sukses menjadi wadah untuk menuangkan pemikiran studi Islam dari berbagai bidang dan perspektif. “Tentu kami memerlukan diskusi, studi, dan riset lebih lanjut,” ujarnya.

Ia menegaskan serangan digitalisasi Islam yang membawa implikasi penyimpangan dan radikalisme harus menjadi perhatian sejak dini. “Saya melihat banyak panel dan paper telah seiring dengan tujuan besar itu” ucapnya.