Debit Sumber Air Berkurang, Pasokan Air Bersih Mulai Tersendat

Ilustrasi. - Reuters/Mike Hutchings
06 Oktober 2019 21:07 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki, memastikan kemarau panjang yang terjadi mulai berdampak pada penyaluran air bersih. Saat ini, debit air di sejumlah sumber mulai berkurang sehingga pengisian tangki air harus mengatre lama sebelum disalurkan ke masyarakat yang membutuhkan.

“Berdasar informasi dari sejumlah sopir truk tangki pengangkut air, debit air di sejumlah sumber mulai berkurang sehingga truk harus mengatre cukup lama untuk mengisi air,” kata Edy kepada wartawan, akhir pekan lalu.

Dia menjelaskan untuk BPBD Gunungkidul ada beberapa sumber air yang dimanfaatkan untuk pengambilan air yakni dua sumber di Desa Karangmojo, Kecamatan Karangmojo, dan Sumber Ngembel di Desa Karangtengah, Kecamatan Wonosari. Satu sumber lainnya berlokasi di Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Meski harus mengatre lebih lama, Edy memastikan target penyaluran tidak berubah setiap harinya. Hanya, karena waktu pengambilan harus melalui antrean panjang maka operasional tangki pengangkut air menjadi lebih lama. Saat awal kemarau, operasional dimulai pukul 08.00 WIB sampai 16.00 WIB, namun untuk saat ini pengoperasian lebih awal dan pulangnya lebih lama. “Sekarang operasional mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB,” ujar mantan Sekretaris Dinas Pendapatan Keuangan dan Aset Daerah Gunungkidul ini.

Edy menambahkan untuk memasok kebutuhan air, BPBD juga mengandalkan sumber-sumber lain. Sebagai contoh untuk kebutuhan air di wilayah Kecamatan Patuk dan Gedangsari, truk tangki mengambil air dari sumber yang berlokasi di Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, sedangkan wilayah Purwosari memanfaatkan sumber air di kawasan Parangtritis, Bantul.

Hingga pekan pertama Oktober 2019, jumlah warga terdampak bencana kekeringan di Gunungkidul mencapai 135.000 jiwa yang tersebar di 14 kecamatan. Meski demikian, hingga sekarang Pemkab belum menetapkan status darurat kekeringan. “Statusnya belum meningkat karena kami masih memiliki stok bantuan. Diperkirakan hujan di wilayah Gunungkidul baru dimulai November mendatang,” katanya.

Kekeringan yang terjadi membuat warga terpaksa mencari sumber air bersih. Selain mengandalkan bantuan serta membeli secara mandiri, ada juga memanfaatkan bocoran air pipa milik PDAM Tirta Handayani. Salah satunya terlihat di Dusun Condong, Desa Botodayakan, Kecamatan Rongkop. “Daripada terbuang sia-sia, air yang keluar dari pipa PDAM yang bocor kami manfaatkan. Air ini sudah kami manfaatkan sekitar tiga bulan terakhir,” kata Reti, salah seorang warga Dusun Condong.

Menurut dia, air yang keluar dari pipa yang bocor sangat membantu karena bisa dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan air. “Kami bisa berhemat, terlebih kalau beli air per tangkinya mencapai Rp160.000,” katanya.