Ilmu Humanistis Ikut Perangi Krisis Lingkungan

Peserta dan panitia berfoto di sela-sela acara Literary Studies Conference (LSC), yang digelar Rabu (9/10/2019), di Ruang Koendjono Gedung Pusat Kampus 2 USD. - Harian Jogja/Adit Bambang Setyawan (M128)
09 Oktober 2019 22:37 WIB Adit Bambang Setyawan (M128) Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Program Studi Sastra Inggris dan Program Pascasarjana Kajian Bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma (USD) Jogja bekerja sama dengan Ateneo de Manila University Filipina menggelar Literary Studies Conference (LSC), Rabu (9/10/2019) di Ruang Koendjono Gedung Pusat, Kampus 2 USD .

LSC sudah diadakan sejak 2013 dengan mengusung tema berbeda-beda setiap tahunnya. Pada konferensi yang ketujuh kali ini panitia mengambil tema Rethinking Environmental Issues in Literature, Language, Culture, and Education. Acara dibuka oleh Dekan Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Jogja, Tatang Iskarna.

Ketua LSC, Harris Hermansyah Setiajid, mengatakan tema ini diambil karena melihat kondisi lingkungan akhir-akhir ini yang semakin terdegradasi. Ilmu humanistis dianggap perlu mengambil peran dalam memerangi krisis lingkungan.

“Bukan hanya orang-orang teknik saja yang mengatasi [masalah lingkungan] tapi dari humaniora juga ikut mengambil bagian untuk mengurangi dampak krisis lingkungan,” kata Harris Hermansyah Setiajid, Rabu.

Konferensi ini berlangsung selama dua hari 9-10 Oktober. Dalam konferensi kali ini menghadirkan tiga pembicara pleno antara lain Chitra Shankaran dari National University of Singapore, Kepala Sekolah Tumbuh Yogyakarta Elga Andriana, dan Novita Dewi dari Universitas Sanata Dharma Jogja.

Pembicara Chitra Shankaran mengulas tentang Feminized Rivers, History and Myth in South and Southeast Asian Women’s Fiction, Elga Andriana berbicara mengenai Growing Plants is Like Growing Your Own Kids: Engaging Children’s Voices in Environmental Education Program, kemudian Novita Dewi menyampaikan soal ekohumanisme dalam makalah berjudul Celebration of Life, Nature, and Literature: Ecohumanism in Language and Literature Teaching.

Selain materi di atas, juga akan ada 67 judul makalah pararel yang berasal dari berbagai negara seperti Singapura, Australia, Filipina, dan Indonesia yang juga dipresentasikan dalam konferensi ini.

Acara ini kata Harris bertujuan khusus membuat gebrakan baru di bidang sastra, karena biasanya konferensi lain selalu berhubungan dengan linguistik.

Salah satu pembicara Novita Dewi, menyatakan penghancuran lingkungan adalah kenyataan. Perubahan iklim, penggundulan hutan dan segala bentuk krisis ekologi telah memengaruhi tidak hanya kehidupan manusia tetapi juga kelestarian lingkungan itu sendiri. Orang miskin dan orang-orang yang rentan tidak memiliki akses untuk bertahan hidup di tengah kemunduran lingkungan. “Dunia yang lambat laun lebih egois, bodoh, dan tidak manusiawi, maka pengajaran sastra harus mengatasi persoalan ini. Membela mereka yang lemah dan tidak bersuara,” tegas dia.