Proyek Infrastruktur Ancam Nasib Sleman Barat Sebagai Lumbung Pangan

Ilustrasi. - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
12 Oktober 2019 05:17 WIB Fahmi Ahmad Burhan Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Produksi pangan tiap tahunnya di Sleman Barat paling banyak dibanding wilayah Sleman lain. Namun, kini, berbagai proyek infrastruktur direncanakan masuk ke Sleman barat, lahan pangan pun terancam.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, Siti Rokayah mengatakan pihak Pemkab Sleman sudah menetapkan kawasan Sleman Barat sebagai kawasan lumbung pangannya Sleman. Di Sleman Barat, yang menjadi pembeda dengan wilayah Sleman lain yaitu jumlah panennya yang lebih banyak.

"Tiga berbanding dua, contoh kalau di Sleman Barat, panen padi itu bisa tiga kali, tapi di wilayah Sleman lain, biasanya hanya dua kali saja, jadinya produksi padi per tahun lebih banyak dibanding wilayah lain," ujar Rokayah pada Jumat (11/10/2019).

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, pada tahun lalu saja total produksi padi sawah di Sleman Barat melingkupi Kecamatan Minggir, Moyudan, Godean, Gamping, dan Seyegan mencapai 83.474 ton dari total produksi padi Sleman 246.539 ton, atau 33%.

Meski demikian, ia tidak menampik, di kemudian hari alih fungsi lahan akan menyasar ke Sleman Barat. "Kalau alih fungsi lahan tidak bisa dihindarkan, karena itu juga kebutuhan pembangunan. Tetapi Pemkab sudah berupaya, salah satunya memasukan wilayah Sleman Barat ini di LP2B [Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan]," ungkap Rokayah.

Namun, dari total LP2B Sleman 18.482 hektare, sampai saat ini masih belum juga diketok melalui Perda. Pihaknya masih menunggu kejelasan dari Pemprov DIY dalam penentuan luasan LP2B.

Apabila sudah ada kejelasan luasan lahan, tidak hanya Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman saja yang wajib menjaganya, tapi semua pihak akan menjaga kawasan tersebut agar meminimalisir alih fungsi lahan.

Kini, beberapa proyek infrastruktur rencananya akan masuk wilayah Sleman Barat, seperti proyek pembangunan rel kereta api dan jalur tol. Sebelumnya, berdasarkan detail engineering design (DED) rencana pembangunan rel kereta api yang menyasar Sleman, beberapa wilayah Sleman Barat terdampak.

Ada enam kecamatan yang terdampak pembangunan rel kereta api, yaitu Kecamatan Gamping, Godean, Seyegan, Mlati, Sleman, dan Tempel. Tiga kecamatan diantaranya yaitu Gamping, Godean, dan Seyegan merupakan wilayah Sleman Barat.

Selain itu, meskipun entry dan exit toll untuk proyek tol Jogja-Solo dan Jogja-Bawen masih dalam tahap perencanaan. Namun, setidaknya dua wilayah Sleman Barat menjadi sasaran, yaitu Gamping dan Seyegan.

Kasubbid Pertanahan dan Penataan Ruang Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sleman Dona Saputra Ginting mengatakan meskipun diperkirakan pembangunan infrastruktur akan masuk ke Sleman barat, namun pihaknya belum bisa menerka kebijakan seperti apa yang akan diambil Pemkab.

"Pastinya akan memengaruhi kebijakan pembangunan. Tapi sejauh ini untuk sementara belum ada info bagaimana arah kebijakan ke depan," ujarnya.

Anggota DPRD Sleman, Untung Basuki Rahmat mengatakan dengan mulai masuknya proyek infrastruktur, perlu ada evaluasi tata ruang di Sleman Barat.

"Selama ini, yang ada walaupun Sleman Barat jadi lahan pangan berkelanjutan dan lumbung pangannya Sleman, tapi perhatian pemerintah terhadap Sleman Barat masih kurang," katanya.

Menurut Untung, idealnya Sleman Barat tidak bisa lagi dijadikan sebagai lumbung pangan Sleman. Melihat kondisi masuknya proyek infrastruktur, harus ada bagi-bagi kue lahan pertanian pangan berkelanjutan dengan wilayah lainnya.

"Mestinya dibagi rata contohnya untuk lahan pangan berkelanjutan itu merata di 17 kecamatan jangan terpusat pada satu daerah saja, tidak semuanya di Sleman Barat," ujar politisi PPP itu.