Hujan Tak Kunjung Datang, Petani Semanu Mulai Bajak Sawah

Ilustrasi kekeringan - REUTERS/Jose Cabezas
13 Oktober 2019 08:37 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, SEMANU - Musim kemarau masih melanda wilayah Gunungkidul. Kendati hujan tak kunjung datang, para petani ternyata sudah mulai membajak sawah-sawah milik mereka. Seperti para petani asal Desa Tambakrejo, Kecamatan Semanu, Gunungkidul.

Mereka membajak sawah dalam kondisi kering, sehingga alat pembajak sawah tampak kesulitan menggali tanah. Bahkan, tak jarang, alat pembajak sawah modern tersebut harus membajak dengan berulang-ulang.

Seorang petani bernama Darmojo, 60, mengungkapkan pembajakan tanah di area sawah miliknya sengaja dilakukan. Hal itu dilakukan, para petani ingin memangkas waktu pengerjaan sebelum masa bibit dan tanam tiba di musim penghujan.

"Bajak lebih awal mas, nanti kalau sudah hujan tinggal tanam padi langsung," kata Darmojo kepada Harian Jogja saat ditemui di area sawah miliknya pada Sabtu (12/10/2019).

Darmojo mengungkapkan rata-rata para petani sudah mulai membajak sawah milik mereka ketika Oktober. Namun, berbeda dengan tahun ini, jika tahun sebelumnya bulan Oktober merupakan waktu para petani mulai mengolah sawah milik mereka.

"Ini karena hujan belum turun jadi langsung di bajak saja, nanti kalau hujan langsung tanam padi, biar waktu tidak terbuang percuma," ujarnya.

Ia menjelaskan sawah tersebut nantinya akan ditanami padi dalam masa beberapa bulan. Setelah itu, akan disusul dengan tanaman kedelai dan kacang tanah. "Pokoknya tanahnya berguna terus walaupun padi sudah panen," kata dia.

Senada dengan Darmojo, Ngatinem, 65, salah seorang petani di Semanu mengungkapkan tanah kering sangat sulit untuk dibajak. Namun, dalam melakukan pembajakan sawah ia mengandalkan jasa orang lain.

"Dibajak aja dulu, nanti langsung tanam saja kalau hujan turun," ungkapnya.

Ia menuturkan tahun ini kemarau cukup panjang, datang lebih awal dan berakhir cukup lama. Sehingga bulan Oktober yang seharusnya sawah-sawah sudah rampung di bajak, tetapi tahun ini belum juga selesai.

"Ya semoga aja bulan depan hujan sudah turun dan bisa langsung tanam padi," kata dia.

Sebelumnya, Kabid Ketahanan Pangan, Dinas Petanian dan Pangan Gunungkidul, Fajar Ridwan mengungkapkan musim kemarau tahun ini sangat panjang dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Siklus tersebut dikatakannya hadir setiap 10 tahun sekali.

“Jadi musim hujan berhenti lebih cepat dan datangnya lebih lambat, menurut perkiraan BMKG [turun hujan] di November,” ungkap Fajar kepada Harian Jogja saat ditemui di ruangannya, Kamis (10/9/2019) lalu.

Sehingga, para petani perlu memutar otak untuk memanfaatkan lahan-lahannya agar bisa menghasilkan, mengingat sumber-sumber air debitnya mengalami penurunan yang cukup drastis.