Generasi Milenial Kulonprogo Diajak Peduli Kesehatan Jiwa

Pelajar beberapa SMA/SMK di Kulonprogo mengikuti gelar wicara terkait Kesehatan Mental untuk Milenial, Rabu (30/10/2019). - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
31 Oktober 2019 01:17 WIB Lajeng Padmaratri Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO- Kesadaran anak muda terhadap kesehatan jiwa masih jauh dari baik. Terlebih, usia muda merupakan usia yang rentan karena memasuki usia transisi sehingga cenderung membutuhkan banyak pendampingan.

Hal itu jadi topik diskusi dalam gelar wicara mengenai Kesehatan Mental untuk Generasi Milenial yang terselenggara pada Rabu (30/10/2019), di Aula Adikarto kompleks Pemkab Kulonprogo. Dalam kesempatan ini, pelajar dari berbagai SMA/SMK di Kulonprogo diajak berbagi informasi mengenai pentingnya memahami kesehatan mental sejak dini.

"Kesadaran anak muda terhadap kesehatan mental menurut pengamatan saya masih perlu ada input terus, perlu ada informasi yg jelas mengenai kesehatan mental, karena ada kemungkinan kesehatan mental merupakan hal yang baru bagi mereka," kata Jaimun, Program Manager Pusat Rehabilitasi YAKKUM, selepas agenda pada Harian Jogja, Rabu (30/10/2019).

Dengan kegiatan ini, Pusat Rehabilitasi YAKKUM menghadirkan sarana pemberian informasi mengenai kesehatan mental pada remaja. "Semakin mereka terpapar mengenai informasi kesehatan jiwa, semakin mereka akan sadar pentingnya kesehatan jiwa," kata Jaimun.

Ia menyebutkan informasi terkait kesehatan jiwa perlu disampaikan sejak dini bagi anak sekolah. "Supaya dia bisa membantu temannya ketika terjadi hal-hal yang mengarah ke depresi, gangguan mental, dan sebagainya," katanya. Sebab, hubungan pertemanan menurutnya akan lebih efektif dalam memberikan pendampingan lebih awal.

Jaimun mengakui kurangnya informasi mengenai kesehatan jiwa di kalangan milenial membentuk stigma negatif orang dengan gangguan jiwa. "Kalau mulai diinformasikan sejak SMP lebih baik sih," kata dia.

Anak-anak, menurut Jaimun, bisa jadi mengalami gangguan jiwa. Sehingga perlu deteksi sejak dini supaya ada pendampingan yang tepat. "Bisa dilakukan di wilayah lewat Dinkes atau Puskesmas," kata dia.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kulonprogo Baning Rahayujati mengatakan Dinkes masih belum memiliki sistem lanjutan dari deteksi dini.

"Deteksi dini kita bisa saja lakukan, tapi sebaiknya jangan dilakukan kalau belum tahu habis deteksi itu akan diapakan," kata Baning pada Harian Jogja beberapa waktu lalu.

Proses deteksi dini tanpa tindak lanjut hanya akan membuat orang yang dideteksi itu tidak kunjung sembuh. "Syarat deteksi dini itu, kalau kita sudah tahu bahwa jika dia positif gangguan jiwa, harus dikemanakan. Sementara kita belum siap," kata dia.

Saat ini ia masih mempersiapkan bagaimana deteksi dini bisa berlanjut hingga tahapan konsultasi. Ia tidak berani memaksakan deteksi dini jika kemampuan Puskesmas dalam memberikan konseling pada pasien belum maksimal. "Ada tapi belum diwajibkan, mengingat tindaklanjut dari deteksi dini itu belum siap," kata dia.