Yakkum Ajak Desa Anggarkan Dana untuk Kesehatan Jiwa

Petugas Satuan Polisi Pamong Praja Kulonprogo tengah mendata salah satu gelandangan yang terciduk dalam penertiban gelandangan dan pengemis di Alun-Alun Wates, Senin (28 - 1)./Ist
01 November 2019 02:17 WIB Lajeng Padmaratri Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO - Angka orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kulonprogo termasuk tinggi. Dalam catatan Dinas Kesehatan Kulonprogo, saat ini ada sekitar 1.500 orang dengan gangguan jiwa. Dari jumlah tersebut, 10 persennya atau sekitar 156 orang mengidap gangguan jiwa kategori berat.

Lebih lanjut, prevalensi ODGJ Kulonprogo di antara kota dan kabupaten lain menempati posisi tertinggi, yaitu 4,7 per mil di tahun 2013 dan meningkat 19,3 per mil di tahun 2018. Untuk itu, kabupaten ini hendaknya menganggarkan untuk program rehabilitasi sosial sejak tingkat desa.

"Kami ingin sampaikan kalau desa itu wadah terdekat bagi ODGJ atau disabilitas psikososial untuk diadakan program layanan berbasis masyarakat, misalnya rehabilitasi sosial," kata Siswaningtyas, Project Manager Kesehatan Jiwa Pusat Rehabilitasi YAKKUM kepada Harian Jogja selepas lokakarya 'Penganggaran Desa untuk Kesehatan Mental' pada Kamis (31/10/2019) di Aula Adikarta.

Dalam lokakarya tersebut, Pusat Rehabilitasi YAKKUM menghadirkan perwakilan dari Desa Sidoluhur, Kecamatan Godean, Sleman yang dianggap sebagai desa model yang sudah menganggarkan dana desanya untuk program rehabilitasi sosial.

"Di Sidoluhur, saat ini programnya sudah pakai anggaran desa sebesar Rp29 juta. Itu sangat baik ya, bisa memprioritaskan untuk kesehatan jiwa," kata dia.

Di sana, ia melanjutkan, program rehabilitasi sosialnya tidak hanya berfokus pada penerimaan ODGJ kbi ke masyarakat, melainkan ODGJ sudah diajak kembali produktif, seperti diajak membuat kerajinan untuk dijual.

Siswaningtyas mencatat di Kulonprogo baru ada lima desa yang sudah punya program rehabilitasi sosial, meskipun belum menganggarkan dana desa untuk itu. Empat desa itu termasuk Kecamatan Temon, yaitu Desa Kulur, Kaligintung, Temon Wetan, dan Temon Kulon, serta satu desa di Kecamatan Pengasih.

"Di Desa Temon Wetan sudah mulai program kepedulian itu. Dari kepala desa punya komitmen mengajak, memobilisasi semua warga untuk peduli disabilitas psikososial. Belum fokus anggaran, tapi bagus untuk permulaan," kata dia.

Siswaningtyas berharap lewat agenda hari ini desa dapat menaruh perhatian terhadap pentingnya kesehatan jiwa. "Sebab desa sekarang posisinya punya otonomi yang kuat, jadi bisa diatur semisal lewat permendes," kata dia.

Rangkaian agenda Hari Kesehatan Jiwa di Kulonprogo ini akan dilanjutkan dengan puncak acara yaitu Jambore Kesehatan Jiwa pada Minggu (3/11/2019) mendatang di Alun-alun Wates.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kulonprogo, Baning Rahayujati mengatakan agenda jambore mendatang akan diikuti sekitar 2000 peserta dari berbagai daerah. "Kegiatan besok [Minggu] melibatkan 2000 orang. Peserta yang akan hadir tidak hanya dari Kulonprogo, tetapi juga dari Gunungkidul dan Sleman," ujarnya.

Jambore Kesehatan Jiwa ini akan diisi senam masal dan flashmob yang dilanjut hiburan tari angguk. Lewat jambore ini, peserta akan diajak untuk peduli dengan kesehatan jiwa, sebab semua orang rentan terhadap gangguan jiwa.