Kunjungan Wisatawan ke Bantul Anjlok, Ini Penyebabnya

Pengunjung melintas di objek wisata Taman Gumuk Pasir, Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Bantul, Rabu (28/8/2019). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
10 November 2019 19:27 WIB Kiki Luqman Hakim (ST 16) Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Dinas Pariwisata (Dinpar) Bantul mencatat penurunan tingkat kunjungan wisata akibat kenaikan harga tiket pesawat dan pengaruh lain yang berkaitan dengan inovasi destinasi wisata.

Kepala Dinpar Bantul Kwintarto Heru Prabowo mengatakan pada triwulan ketiga tahun ini jumlah kunjungan wisata baru tercapai sekitar 2,9 juta wisatawan. Tahun 2018, dengan periode yang sama kunjungan wisata di Bantul mencapai 3,1 juta orang.

“Harga tiket penerbangan memang cukup berpengaruh pada turunnya jumlah kunjungan wisata. Di Bantul, pada triwulan ketiga ini sudah terjadi penurunan sekitar 12 persen,” ujarnya pada Minggu (10/11/2019).

Kendati demikian, Kwintarto yakin target kunjungan wisatawan di Bantul tetap bisa tercapai pada musim liburan akhir tahun nanti. Ia pun berencana menggelar berbagai agenda wisata guna menarik minat pengunjung.

“Transportasi udara merupakan salah satu akses yang paling banyak dipakai oleh wisatawan untuk menuju ke DIY,” ucapnya.

Selain karena naiknya harga tiket pesawat, menurut dia ada faktor lain yang menjadi penyebab turunnya kunjungan, yakni mulai menurunnya minat wisatawan untuk mendatangi suatu destinasi karena merasa bosan.

“Kami akan terus memuncupkan inovasi baru agar angka kunjungan ini semakin bertambah,” katanya.

Sebelumnya, Pemerintah menyediakan penerbangan murah low cost carrier (LCC) setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu pada jam keberangkatan antara pukul 10.00 hingga 14.00 waktu setempat. Pertangahan tahun ini, kebijakan itu baru baru berdampak pada kenaikan pergerakan wisatawan domestik sebesar 5%.

Pemerintah per 11 Juli mulai memberlakukan harga tiket penerbangan murah di hari tertentu itu diberikan diskon sebesar 50% dari tarif batas atas (TBA) dengan alokasi seat tertentu yakni 30% dari total kapasitas pesawat.

Wakil Ketua Umum DPP Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Rudiana Jones mengatakan kebijakan itu hingga saat ini belum dapat memulihkan kondisi pariwisata di Indonesia. Pasalnya, penerbangan murah ini hanya di waktu tertentu saja, tidak merata setiap hari yang akan berdampak secara langsung.

Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengatakan geliat sektor perhotelan memang kembali bergairah mesti belum secara signifikan akibat adanya kebijakan tiket pesawat murah. Adapun, sejak ditetapkannya kebijakan itu, terdapat kenaikan okupansi sekitar 2% hingga 3% saja dan tak semua terjadi di kota-kota di Indonesia

Menurutnya, dengan memberikan seat terbatas penerbangan murah ini, tak bisa berdampak signifikan kondisi pariwisata Tanah Air. Negara Indonesia merupakan kepulauan dan wisatawan membutuhkan pesawat udara sebagai transportasi primer untuk bepergian.