1.111 Pasien HIV di Sleman Diberi Obat Anti AIDS Gratis

Ilustrasi. - Reuters
03 Desember 2019 13:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo mengatakan pengadaan obat Antiretroviral (ARV) untuk pencegahan berkembangnya virus Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) sampai saat ini masih diampu dari Kementerian Kesehatan dikarenakan upaya tersebut merupakan program pemerintah pusat.

"Obat ARV masih disediakan oleh Kemenkes dengan APBN, namun pemkab juga punya buffer untuk obat ARV," ujar Joko, Senin (2/11/2019).

Joko menerangkan, obat ARV paling tidak dapat mencegah terjadinya AIDS meskipun tidak bisa menyembuhkan HIV. Menurutnya, jika sudah berkembang AIDS, pasien akan rentan mengalami komplikasi berbagai macam penyakit dan sukar disembuhkan.

Namun demikian, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman turut menyediakan obat untuk mencegah Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Hal itu didukung oleh Pemkab Sleman yang juga mengalokasikan anggaran buffer atau penyangga obat, termasuk didalamnya ada Antiretroviral (ARV). Walaupun pengadaan ARV merupakan kewenangan pemerintah pusat.

"Namun Buffer anggaran kita tidak spesifik untuk ARV, lebih banyak untuk cadangan kalau terjadi kejadian luar biasa," jelasnya.

Joko mengungkapkan, pengidap HIV dapat langsung mengambil ARV ke fasilitas kesehatan tertentu dengan membawa rekam medik, tanpa perlu rujukan. Obat ini juga diberikan secara gratis.

Adapun, obat Antiretroviral sendiri sudah tersedia di RSUD Sleman, RSUD Prambanan, dan RSUP Sardjito serta puskesmas Tempel I.

Namun, ARV juga tidak bisa sembarangan diberikan melainkan harus didukung dengan hasil laboratorium karena harganya yang juga mahal

"Tahun ini, semua yang positif HIV diberikan terapi ARV. Jumlahnya 1.111 penderita termasuk yang baru ditemukan pada tahun 2019," paparnya.

Sampai saat ini, tercatat sekitar ada 1.150 penderita sejak pertama kali kasus HIV ditemukan di Sleman pada tahun 2004.

"Kejadian AIDS dilaporkan sebanyak 105 kasus. Yang meninggal cukup banyak terutama penderita AIDS," terangnya.

Faktor resiko penderita HIV/AIDS mayoritas disebabkan penggunaan jarum suntik yang tidak steril. Kebanyakan adalah kalangan pengguna narkoba. Berada di urutan kedua yakni seks bebas.

Kabid Kesmas Dinkes Sleman Wisnu Murti mengatakan dalam mengantisipasi penyebaran virus AIDS pihak mempunya inovasi namanya TeS HIV (Temukan Sedini mungkin HIV).

Senada dengan Joko, Wisnu mengatakan jika seluruh Indonesia obat ARV masih diadakan Kemenkes. Namun, terapi ARV rutin sudah mulai bisa dilakukan di puskesmas yang memang sudah diberikan pelatihan.

"Jadi kalau sudah rutin dan viral load baik, maka terapi boleh ambil rutin di puskesmas, sambil upaya pemantauan berkala ke Rumah Sakit juga musti dilakukan," tutupnya.