Kunjungan Wisata Moncer, DPRD Gunungkidul Bidik PAD Rp60 Miliar
PAD wisata Gunungkidul sudah lebih dari Rp50 miliar. DPRD mendorong target retribusi wisata 2026 dinaikkan menjadi Rp60 miliar.
Anggota Komunitas Gunungkidul Reptil Independen Dino Ahzar Setiawan saat melakukan tes untuk mengetahui jenis kelamin ular kobra yang ditangkap di wilayah Dusun Kepek I, Kepek, Wonosari. Kamis (5/12/2019)-Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, WONOSARI–Berbagai cara dilakukan warga Dusun Kepek I, Kepek, Wonosari, Gunungkidul untuk mengusir belasan ular kobra yang meneror permukiman penduduk. Termasuk mengundang pranormal.
Warga juga menggandeng komunitas Gunungkidul Reptil Independen untuk mencari sarang ular kobra tersebut. Total hingga Kamis (5/12/2019) sore, warga telah menangkap 16 ekor kobra.
Salah seorang warga Kepek I, Ervan Bambang Dermanto mengatakan, berbagai cara sudah dilakukan untuk mencari asal usul ular kobra. Selain mendatangkan pawang dan komunitas pecinta reptil, warga juga sudah mencoba dengan mendatangkan paranormal.
Hanya saja, lanjut Ervan, paranormal yang didatangkan tidak menjelaskan secara pasti persembunyian ular berbisa itu. Pranormal hanya menunjukkan jalan yang sering dilalui ular-ular tersebut.
“Belum ada solusi dan warga masih khawatir dengan ular-ular ini. Untuk itu, kami masih berusaha mencari persembunyian sehingga keberadaannya dapat segera diatasi,” ungkapnya.
Anggota Komunitas Gunungkidul Reptil Independen, Dino Azhar Setiawan mengatakan, komunitasnya siap membantu warga Kepek I untuk menyisir tempat persembunyian ular kobra. Hasil penyisiran bersama sudah menemukan beberapa ekor anakan ular dan satu kobra betina dewasa. “Untuk yang betina mudah-mudahan masuk indukan. Sedangkan yang kecil masih berusia sekitar satu bulan,” katanya.
Dino menuturkan, pihaknya bersama dengan warga akan terus melakukan pencarian. Untuk antisipasi, dia juga meminta kepada warga tidak sembrono karena ular ini bisa membahayakan jiwa warga. “Kalau yang sudah terbiasa ditangkap dengan tangan boleh, tapi kalau tidak boleh dibunuh saja karena masuk hewan berbahaya,” katanya.
Untuk ular-ular yang telah ditangkap, Dino mengakui masih memelihara. Namun pada saatnya akan melepaskan ke kawasan hutan di wilayah Gunungkidu yang keberadannya jauh dari permukiman warga. “Kalau kami [komunitas pecinta reptil] sudah terbiasa. Jadi, ular yang tertangkap akan kami lepasliarkan ke alam bebas,” ungkapnya.
Disinggung mengenai keberadaan ular kobra di wilayah perkotaan, Dino tidak bisa memastikan. Namun ia menduga hal ini dikarenakan adanya gangguan di habitat aslinya sehingga berpindah ke tempat yang lain.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PAD wisata Gunungkidul sudah lebih dari Rp50 miliar. DPRD mendorong target retribusi wisata 2026 dinaikkan menjadi Rp60 miliar.
Sebanyak 151 kasus kekerasan perempuan dan anak tercatat di Bantul hingga Juli 2026. Kekerasan verbal menjadi salah satu kasus dominan.
Ekonom UAJY Y. Sri Susilo menilai Suahasil Nazara punya PR berat, terutama pengelolaan fiskal daerah setelah menggantikan Purbaya.
Kasus leptospirosis di Jogja mencapai 23 kasus hingga Agustus 2026. Dinkes mengingatkan warga waspada menjelang musim hujan.
Yamaha kembali menggelar Clan of Classy Vol.3 di Yogyakarta pada 13–14 September 2026.
Aktivis Jogja menyurati MPR dan DPD RI untuk meminta program MBG dihentikan karena menyoroti kasus keracunan dan dugaan pelanggaran HAM.