Gelombang Tinggi, 3 Perahu Nelayan Tenggelam Diterjang Ombak
Tiga perahu nelayan Gunungkidul terbalik dalam kurang dari 24 jam. Tujuh nelayan selamat di tengah gelombang yang naik.
Anggota Komunitas Gunungkidul Reptil Independen Dino Ahzar Setiawan saat melakukan tes untuk mengetahui jenis kelamin ular kobra yang ditangkap di wilayah Dusun Kepek I, Kepek, Wonosari. Kamis (5/12/2019)-Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, WONOSARI–Berbagai cara dilakukan warga Dusun Kepek I, Kepek, Wonosari, Gunungkidul untuk mengusir belasan ular kobra yang meneror permukiman penduduk. Termasuk mengundang pranormal.
Warga juga menggandeng komunitas Gunungkidul Reptil Independen untuk mencari sarang ular kobra tersebut. Total hingga Kamis (5/12/2019) sore, warga telah menangkap 16 ekor kobra.
Salah seorang warga Kepek I, Ervan Bambang Dermanto mengatakan, berbagai cara sudah dilakukan untuk mencari asal usul ular kobra. Selain mendatangkan pawang dan komunitas pecinta reptil, warga juga sudah mencoba dengan mendatangkan paranormal.
Hanya saja, lanjut Ervan, paranormal yang didatangkan tidak menjelaskan secara pasti persembunyian ular berbisa itu. Pranormal hanya menunjukkan jalan yang sering dilalui ular-ular tersebut.
“Belum ada solusi dan warga masih khawatir dengan ular-ular ini. Untuk itu, kami masih berusaha mencari persembunyian sehingga keberadaannya dapat segera diatasi,” ungkapnya.
Anggota Komunitas Gunungkidul Reptil Independen, Dino Azhar Setiawan mengatakan, komunitasnya siap membantu warga Kepek I untuk menyisir tempat persembunyian ular kobra. Hasil penyisiran bersama sudah menemukan beberapa ekor anakan ular dan satu kobra betina dewasa. “Untuk yang betina mudah-mudahan masuk indukan. Sedangkan yang kecil masih berusia sekitar satu bulan,” katanya.
Dino menuturkan, pihaknya bersama dengan warga akan terus melakukan pencarian. Untuk antisipasi, dia juga meminta kepada warga tidak sembrono karena ular ini bisa membahayakan jiwa warga. “Kalau yang sudah terbiasa ditangkap dengan tangan boleh, tapi kalau tidak boleh dibunuh saja karena masuk hewan berbahaya,” katanya.
Untuk ular-ular yang telah ditangkap, Dino mengakui masih memelihara. Namun pada saatnya akan melepaskan ke kawasan hutan di wilayah Gunungkidu yang keberadannya jauh dari permukiman warga. “Kalau kami [komunitas pecinta reptil] sudah terbiasa. Jadi, ular yang tertangkap akan kami lepasliarkan ke alam bebas,” ungkapnya.
Disinggung mengenai keberadaan ular kobra di wilayah perkotaan, Dino tidak bisa memastikan. Namun ia menduga hal ini dikarenakan adanya gangguan di habitat aslinya sehingga berpindah ke tempat yang lain.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tiga perahu nelayan Gunungkidul terbalik dalam kurang dari 24 jam. Tujuh nelayan selamat di tengah gelombang yang naik.
Olahraga tradisional Nusantara akan menjadi salah satu sajian utama dalam ASEAN Sports Day (ASD) 2026 yang digelar di Jogja pada 31 Agustus-6 September 2026
BPBD DIY menyiapkan dukungan anggaran menghadapi puncak kekeringan Agustus-September 2026. Gunungkidul sudah salurkan 484 tangki air.
Menhub Dudy Purwagandhi menyebut kabut asap karhutla mulai mereda. Transportasi darat, laut, dan udara di Kalimantan tetap beroperasi.
Rencana regrouping SDN Hargomulyo dengan SDN Banjaran ditolak warga. Disdikpora Kulonprogo akan meninjau ulang kebijakan tersebut.
GAIA Cosmo Hotel Yogyakarta berharap aksi solidaritas tersebut dapat menginspirasi lebih banyak pihak, baik dari sektor swasta maupun masyarakat luas