Informasi Berubah-ubah, Warga Gunungkidul Bingung dengan Proyek Kelok 18

Proyek JJLS - JIBI
08 Desember 2019 19:57 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Proyek pembangunan kelok 18 di Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) membuat bingun warga setempat karena informasi yang berubah-ubah.

Sugio, 52, warga Dusun Watu Gajah, Desa Girijati mengaku tak tahu menahu pastinya dimulainya pembangunan jalur kelok 18 di wilayah mereka. Sebab, informasi terus berubah-ubah hingga saat ini.

"Kata orang yang ngukur dulu tahun 2018, terus 2019 lagi, dan sekarang dengar-dengar 2020, bisa jadi lagi 2021, belum ada yang jelas, padahal pembebasan lahan sudah semua," ujarnya, Minggu (8/12/2019).

Senada dengan Sugio, Sunarno, 50, mengaku tak tahu menahu rencana pastinya pembangunan kelok 18 tersebut. Yang pasti, ia bersyukur pembangunan kelok 18 melintasi wilayah mereka, sebab bisa menjadi wadah bagi warga sekitar untuk meningkatkan ekonomi mereka.

"Kalau jadi kan bisa berimbas kepada warga, bisa jualan, bisa bangun sesuatu yang menguntungkan warga dan lain-lain," ujarnya.

Kasi Pemerintahan Desa Girijati, Kecamatan Purwosari, Sumoyo berharap pengerjaan pembangunan jalur Kelok 18 yang merupakan sambungan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) dari arah Giricahyo bisa melibatkan masyarakat lokal. Hal itu guna memberikan dampak awal peningkatan ekonomi masyarakat sebelum benar-benar jalur tersebut rampung.

"Kami sangat berharap dan meminta agar masyarakat lokal dalam hal ini warga Girijati bisa ikut terlibat dalam proses pembangunannya," kata Sumoyo kepada Harian Jogja pada Minggu (8/12/2019).

Ia mengungkapkan banyak SDM dari masyarakat di Desa Girijati yang berpotensi untuk turut mengerjakan proyek jalur tersebut, walaupun dalam pengerjaan sekup kecil seperti pembangunan talud. Mengingat garis awal jalur kelok 18 bermula di Dusun Watu Gajah, Desa Girijati.

"Di sini banyak masyarakat yang bisa dilibatkan dalam pembangunan kelok 18," ujarnya.

Menurut Sumoyo pembangunan kelok 18 tersebut sangat berdampak pada peningkatan ekonomi warga. Walaupun, titik kelok 18 berada di Kabupaten Bantul, tetapi jalurnya bermula di desa tersebut.

"Saya sangat yakin kalau kelok 18 jadi warga sekitar bisa terkena imbasnya, setidaknya warga bisa jualan es disekitarnya dan menguntungkan," ujarnya.

Ia mengungkapkan sesuai informasi yang diberikan oleh Pemerintah DIY, pembangunan sambungan JJLS dan kelok 18 di wilayah Girijati sepanjang 2.500 meter. Namun, ia tak tahu menahu seperti apa nanti realisasinya. "Pembebasan lahan alhamdulillah sudah semua dan tidak ada kendala yang berarti," tuturnya.