Perempuan Bangsa DIY Panaskan Mesin Politik, Bidik PKB Menang di 2029
Perempuan Bangsa DIY menggelar Muswil sebagai langkah awal konsolidasi organisasi dan penguatan kader untuk menghadapi Pemilu 2029.
Petugas kebersihan membersihkan ruang tunggu Bandara Internasional Yogyakarta, Kulonprogo, Rabu (02/05/2019)./Harian Jogja-Desi Suryanto
Harianjogja.com, JOGJA—Kawasan aerotropolis penopang Bandara Internasional Yogyakarta atau Yogyakarta International Airport (YIA) diperluas hingga tiga kali lipat dari rencana semula.
Bupati Kulonprogo Sutedjo mengatakan kawasan aerotropolis yang semula hanya radius lima kilometer dari YIA, dikembangkan menjadi 15 kilometer. RSUD Wates yang semula berada di luar kawasan, dimasukkan menjadi bagian dari aerotropolis. RSUD Wates saat ini sedang dalam proses pengembangan menjadi rumah sakit unggulan dan terstandar internasional.
“Bagian dari layanan untuk wilayah bandara. Kalau ada keadaan darurat di lingkungan bandara ini masih masuk ruang lingkup area itu sehingga pengelolaannya, aksesnya juga dibangun,” ujarnya seusai menghadap Gubernur DIY Sri Sultan HB X di Kepatihan, Jogja, Selasa (10/12).
Sutedjo mengatakan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Aerotropolis kawasan YIA telah selesai dibahas bersama DPRD Kulonprogo. RDTR itu, saat ini sedang disinkronkan dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) DIY dan Pemerintah Pusat.
Seperti diberitakan sebelumnya, Pemda DIY sedang mengembangkan wisata kesehatan dengan membangun RSUD Wates. Dana sekitar Rp500 miliar dikucurkan untuk merealisasikan DIY sebagai destinasi wisata kesehatan.
Sutedjo mengatakan pertemuannya dengan Sultan kemarin dalam rangka meminta petunjuk dari Gubernur DIY mengingat status dirinya sebagai Bupati Kulonprogo yang tergolong baru. Salah satunya berkaitan dengan keberadaan YIA yang saat ini sudah mulai beroperasi.
“Karena Kulonprogo ada bandara baru, prospek ke depan makin banyak tantanganKami mohon petunjuk. Supaya kami tidak salah langkah untuk pengembangan Kulonprogo ke depan. Intinya itu,” katanya.
Salah satu hal penting fasilitas pendukung YIA adalah kawasan aerotropolis. Pembangunan kawasan ini akan melibatkan banyak investor, tetapi RDTR sebagai panduan investor untuk menanamkan modal, belum final.
Ia menegaskan RDTR tersebut tidak boleh bertentangan aturan di atasnya serta tak boleh bertentangan dengan kepentingan umum. Namun, Sutedjo belum dapat memastikan kapan RDTR bisa klir.Ia hanya menegaskan pembahasan telah selesai dilakukan di DPRD Kulonprogo.
“Kami lihat dulu nanti kaitan dengan yang [RTRW] provinsi. [RDTR] Sudah di Dewan [DPRD Kulonprogo]. Pembahasan sudah selesai, tinggal penyesuaian,” ucapnya.
Pemkab Kulonprogo, kata dia, akan mempersiapkan masyarakat yang berada di sekitar aerotropolis agar bisa mengikuti perkembangan. Ia yakin mereka secara otomatis dapat menyesuaikan dengan kondisi kawasana aerotropolis. “Masyarakat sudah ada yang mulai buka indekos, ikut membuka akses transportasi termasuk jasa yang lain,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Perempuan Bangsa DIY menggelar Muswil sebagai langkah awal konsolidasi organisasi dan penguatan kader untuk menghadapi Pemilu 2029.
Mahasiswa perlu mendapatkan pemahaman SNI dan mendorong lulusan memiliki sertifikat kompetensi agar siap bersaing di dunia kerja.
Kimaya Sudirman Yogyakarta by HARRIS kembali menghadirkan berbagai penawaran spesial bagi pasangan yang ingin mewujudkan pernikahan impian.
Said Iqbal mengusulkan penghapusan pajak JHT, THR, dana pensiun, dan pesangon kepada Menteri Keuangan demi meningkatkan kesejahteraan buruh.
PM India Narendra Modi berjanji kembali ke Indonesia sebelum 2029 untuk meresmikan Candi Prambanan setelah restorasi bersama rampung.
Pemkab Kulonprogo menggabungkan Disdag dan DisperinkopUKM mulai Januari 2027 demi meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan.