Pasar DIY Dibanjiri Teri Nasi Berformalin

(Dari kiri ke kanan) Kepala BPOM DIY, Rustyawati, Assekda Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY Tri Saktiyana dan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY Aris Riyanta menunjukkan sampel makanan berformalin, Senin (16/12/2019). - Harian Jogja/Sunartono
16 Desember 2019 21:57 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) DIY kembali menemukan adanya bahan makanan yang dijual berupa terinasi dan cumi-cumi kering mengandung formalin.

Kepala BBPOM DIY, Rustyawati menjelaskan temuan berulang pada bahan makanan jenis ikan asin berupa teri nasi dan cumi-cumi kering yang mengandung formalin. Temuan itu di antaranya di Pasar Argosari dari 13 sampel terinasi, cumi asin dan ikan teri 23% di antaranya mengandung formalin.

Begitu juga dengan di Pasar Kranggan dan Beringharjo, Kota Jogja, dari 14 sampel sebanyak 14% di antaranya ditemukan terinasi mengandung formalin. Hal serupa juga ditemukan di Pasar Pakem, Sleman, dari 20 sampel, sebanyak 30% di antaranya mengandung formalin berupa teri nasi dan cumi asin. Kemudian Pasar Piyungan Bantul juga ditemukan satu bungkus sampel teri nasi berformalin. “Untuk DIY masih ada terinasi, cumi asin masih ditemukan ada formalinnya, kami tindaklanjuti penelusuran infonya, beberapa pasar kami uji hasilnya positif. Kata para penjual itu belinya dari Pasar Beringharjo,” katanya di Kepatihan, Jogja, Senin (16/12/2019).

Dia mengatakan dari hasil penelusuran dari sales keliling di setiap pasar, sumber utamanya mereka berasal dari Pasar Beringharjo. Setelah ditelusuri teri nasi dan cumi asin tersebut berasal dari Pekalongan, Jawa Timur dan Solo.

Pihaknya kemudian kembali melakukan uji laboratorium terhadap produk asal kedua daerah tersebut hasilnya Pekalongan dinyatakan negatif, dengan demikian produk dari Solo dan Jawa Timur yang positif berformalin. “Kami sudah ketemu dengan penjualnya kami berkoordinasi dan mereka berjanji untuk tidak membeli terinasi yang berformalin. Sumber pengadaan ada dari Pekalongan, Solo, Jawa Tengah. Yang dari Pekalongan negatif, kami minta kepada pedagang Pasar Beringharjo membeli yang negatif hasil sampelnya,” ucapnya.

Rutin Memasok

Modus yang digunakan para sales ikan berformalin ini hanya memberikan sedikit barang kepada penjual. Tetapi secara rutin dipasok, mereka memiliki gudang tersendiri untuk melakukan penyimpanan yang sewaktu-waktu dikirim kepada penjual di berbagai pasar di DIY. “Kami periksa langsung ke rumah-rumah sales-nya, intinya warga DIY. Kami juga selalu sampaikan ke pedagang juga agar tidak menjual atau memasok yang berformalin,” ucapnya.

Meski begitu, dia mengklaim jumlah bahan makanan berformalin di DIY saat ini sudah menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun sebelumnya ditemukan sekitar 22% bahan makanan berformalin, tetapi di 2019 ini turun menjadi 16%. “Persoalannya itu barang berasal dari luar DIY sehingga menyulitkan pengawasan, kalau dari DIY sudah pasti bisa dicegah,” katanya.