Asa Pedagang Burung Kulonprogo Tergantung di Pasar Baru

Pasar Hewan Terpadu Pengasih saat pasaran wage. Pedagang hewan, pakan burung, klithikan, dan kuliner seluruhnya dipindahkan dari Pasar Burung Wates pada Jumat (29/11/2019) lalu. - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
16 Desember 2019 06:47 WIB Lajeng Padmaratri Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Ratusan pedagang pasar burung yang semula beroperasi di belakang Terminal Wates, Kulonprogo, sudah aktif berjualan ke lokasi baru di Pasar Burung Pengasih, kompleks Pasar Hewan Terpadu (PHT). Penyesuaian tak hanya dilakukan oleh pedagang, melainkan juga pembeli yang sudah berlangganan. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Lajeng Padmaratri.

Rutinitas mingguan Tujiman berubah dari biasanya. Pada Kamis Wage (5/12/2019) pagi, pria 53 tahun asal Desa Kriyanan, Kecamatan Wates itu perlu mengayuh sepedanya lebih jauh ketimbang biasanya. Dua kali lipat lebih jauh, tepatnya.

Hal itu dilakukannya untuk berangkat ke Pasar Burung Pengasih guna membeli otek, pakan untuk burung kenari peliharaannya. Sekitar tiga kilometer ditempuhnya dengan sepeda. Sebelumnya, ia selalu mencari pakan burung di Pasar Burung Wates yang hanya perlu ditempuhnya sekitar 1,5 kilometer dari rumahnya.

Sampai di lokasi pasar yang baru, Tujiman menyempatkan diri berkeliling pasar. Di PHT ini ada sebanyak 69 unit los dan kios yang menjajakan berbagai perlengkapan merawat burung peliharaan dan kuliner. Tak hanya melihat-lihat kondisi pasar yang baru, Tujiman juga mencari pedagang pakan burung langganannya.

Tak berapa lama, ia menemukannya. Los nomor enam. Ia langsung mengutarakan barang yang dicarinya pada Harni Lestari, penjualnya. "Tumbas otek, Bu," kata Tujiman.

Kepada Harian Jogja, Tujiman mengaku sekaligus berolahraga dengan bersepeda dari rumah. "Yang di Wates itu strategis karena dekat rumah saya, dekat terminal juga. Kalau di sini [Pengasih] itu kan terlalu ke pinggiran ya," katanya.

Menurutnya, Pasar Burung Pengasih bisa lebih ramai pengunjung jika jalur angkutan umum melewati lokasi ini. Para pedagang dan pembeli akan dipermudah dengan adanya transportasi umum yang melewati rute ini.

Di sekeliling los dan kios, tampak pedagang burung dan klithikan menggelar lapak mereka. Ada yang menggunakan alas terpal untuk barang klithikan, ada pula yang memarkir motor dengan krombong berisi sangkar-sangkar burung.

Beberapa kali Tujiman memicingkan mata karena silau dari terik Matahari. Walau sudah berdiri bangunan untuk los dan kios, ia menyebut pasar ini masih kekurangan pohon perindang. "Kalau ditambahi pohon perindang, selain lebih bagus, juga bisa bikin lebih teduh," ucapnya.

Hal senada diungkapkan Pratman, 50. Pedagang burung tekukur dan kutilang asal Sentolo ini harus merentangkan terpal di atas kepala dari teralis gerbang ke ujung-ujung sangkar. Hal itu dilakukannya untuk melindungi kepala dari teriknya Matahari yang menyengat.

Beruntung ia mendapatkan jatah lapak di pinggir gerbang yang memisahkan pasar dengan jalan raya, sehingga ia bisa "membuat tenda" dengan menali terpal dengan teralis gerbang dan ujung sangkarnya.

"Sudah ada dua orang yang beli tadi," kata Pratman.

Ia sudah lupa sejak kapan berjualan burung di Pasar Burung Wates sebelum kemudian pindah ke PHT Pengasih. Namun, ia berharap boyongan ini tak mematikan keramaian yang sudah biasa ia alami saat wagean di Pasar Burung Wates.

Pratman menuturkan tak menolak dengan kebijakan pemerintah memindahkan lokasi pasar burung. Namun ia berharap pemerintah bisa mengupayakan supaya pasar yang baru tersebut bisa seramai lokasi semula. "Kalau bisa ya lebih ramai daripada yang dulu," kata dia.

Tak hanya pedagang burung yang masih menyesuaikan diri, pedagang barang bekas pun masih melakukannya. Salah satunya ialah Sigit yang sudah sejak 2000 menjajakan telepon seluler bekas dan jasa reparasi di Pasar Gawok tiap pasaran wage.

"Masih penyesuaian, masih banyak yang cuma lewat terus lihat-lihat. Beberapa masih nanyain lapaknya pak siapa, pak siapa, karena biasanya sudah langganan," katanya.

Sigit berharap dengan berpindahnya pasar ini membuat pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan membentuk suatu badan hukum untuk melindungi konsumen terkait dengan barang klithikan. "Kasus klithikan kan biasanya karena barang curian. Ke depannya saya minta ada badan hukumnya, supaya semuanya lebih hati-hati," kata dia.

Warga asal Badran, Jogja ini juga menuturkan Pemkab Kulonprogo perlu mengkaji betul lahan bekas Pasar Burung Wates yang rencananya dijadikan ruang publik. "Sebab dulu kan awalnya di sana itu banyak pekerja seks komersialnya makanya dinamakan Pasar Gawok. Nah, kalau jadi taman apakah enggak balik lagi banyak PSK-nya?," katanya.

Ia menambahkan jikalau tak dijadikan taman, tetapi justru dialihfungsikan menjadi, misalnya, bangunan hotel, ia curiga ada orang dalam yang turut bermain. "Malah bikin geger kalau jadinya bukan taman, tapi hotel," katanya.

Saat ini, Pasar Burung Pengasih dilengkapi sarana prasarana meliputi MCK, jalan lingkungan, pagar keliling, dan sebagainya. Harni Lestari, penjual pakan burung, menuturkan fasilitas di lokasi baru ini lebih baik ketimbang lokasi lama. "Rasanya lebih bagus dan lebih rapi," kata dia.

Dalam pemindahan pasar burung ini selain pedagang burung sebanyak 69 orang, juga dipindahkan pedagang pedagang klithikan sebanyak 172 orang, pedagang ayam 72 orang, serta penjual rumput sembilan orang.

Ketua Paguyuban Pasar Burung Pengasih (dulu Paguyuban Pasar Burung Wates), Kasbini, menyebutkan belum semua pedagang berjualan selama dua kali wagean satu minggu ini, yaitu pada Sabtu (30/11) dan Kamis (5/12).

"Masih akan ada penambahan fasilitas, seperti pengecoran jalan, lalu akan ditambah satu pintu baru di tengah untuk pedagang klithikan," kata Kasbini. Selain itu, pintu gerbang yang mengarah ke PHT juga belum dibangun.

"Tentu harapan kami semoga lebih ramai daripada yang lawas," katanya.