PBTY 2020 Siap Menjadi Magnet Wisatawan, Ini Daftar Acaranya

Salah satu penampilan dalam penutupan PBTY 2019, Selasa (19/2/2019). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
19 Desember 2019 06:07 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Perhelatan pekan kebudayaan yang rutin digelar setiap tahun, Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) siap kembali menjadi magnet wisatawan untuk berkunjung ke Jogja. PBTY XV 2020 pun semakin dekat. 

Koordinator Humas dan Publikasi PBTY XV 2020 Bekti menyebutkan PBTY tahun depan akan digelar pada 2-8 Februari 2020. Persiapan pun sudah dilakukan. Setiap tahun PBTY diampu paguyuban yang berbeda-beda. PBTY XV 2020 diampu tiga paguyuban yakni Bhakti Putera, Fuqin dan Hin An Hwe Kwan. Tema yang diambil untuk perhelatan tahun depan yakni The Cultural Colors of Wonderful Indonesia.

"Kami mengangkat tema The Cultural Colors of Wonderful Indonesia. Intinya kami ingin menampilkan berbagai macam seni dan budaya. Jadi, isinya enggak hanya budaya Tionghoa walaupun identik dengan perayaan Imlek. Kami enggak ingin menonjolkan Tionghoa saja. Di DIY ini kan banyak akulturasi dengan budaya Jawa," kata dia, Rabu (18/12). 

Tak Masuk Agenda

Ia menjelaskan ada kata Wonderful Indonesia dengan harapan PBTY bisa masuk pada kalender agenda Kementerian Pariwisata. Perjuangan panitia PBTY untuk masuk kalender agenda Kementerian Pariwisata dimulai sejak perhelatan 2017 dan 2018 secara mandiri. Pada 2019 panitia kembali secara mandiri berusaha menembus Kementerian Pariwisata dan mengikuti kontes presentasi.

Dinas Pariwisata DIY menjadi pihak yang mempresentasikan rencana tersebut. Dalam kesempatan tersebut, Kementerian Pariwisata menyatakan hanya akan mengakomodasi tiga event besar dari setiap provinsi. Saat presentasi, DIY mengusulkan 12 event dalam waktu 20 menit. Karena sedikitnya waktu pemaparan membuat kesempatan menjadi tidak maksimal. Alhasil, PBTY tidak masuk kalender event, padahal di provinsi lain perayaan Cap Go Meh selalu menjadi tiga event besar yang masuk kalender agenda. "Saya kira adanya PBTY sangat efektif mendorong pertumbuhan wisata di DIY. Pada Februari itu kan low season, tetapi dengan adanya PBTY kunjungan wisata khususnya di area PBTY dan sekitar Malioboro meningkat," kata dia. 

Perputaran Uang

Ia menjelaskan selama pelaksanaan PBTY perputaran uang di area PBTY mencapai miliaran rupiah. Tak hanya di lokasi PBTY, perputaran ekonomi di area sekitar PBTY khususnya Malioboro dan sekitarnya pun ikut meningkat karena banyaknya pengunjung. Hal ini menjadi peluang untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan menumbuhkan perekonomian masyarakat.

Minat masyarakat untuk membuka stan pun selalu tinggi. Sampai saat ini sudah ada sekitar 110 stan yang terisi dari kapasitas 125 hingga 140 stan. Selain diisi stan, PBTY tahun depan dijamin meriah dengan berbagai pertunjukan seperti wayang potehi, pameran, tari-tarian, atraksi, barongsai, karnaval di hari pertama, hingga pemilihan Koko Cici 2020.

"Pameran akan digelar di Rumah Budaya. Barang yang dipamerkan misalnya perabot atau pernak-pernik peranakan seperti meja, kursi, ranjang, meja sembahyang, alat dapur, alat perdaganga, dan lainnya. Di sana juga akan digelar pementasan wayang potehi. Tahun sebelumnya, wayang potehi digelar di pojokan Hotel Melia," kata dia.

Ia mengatakan peran pemerintah dalam penyelenggaraan PBTY semakin besar. Persoalan dana diakui menjadi salah satu kendala yang dihadapi. Bahkan, karena alasan dana penyelenggaraan pemilihan Koko Cici berikutnya setelah 2020 akan dilakukan dalam jangka waktu dua tahun sekali.