Tol Jogja-Solo Gusur Ring Road Monjali, Sri Sultan: Kalau Enggak Mau, Enggak Jadi Dibuat Tol

Sri Sultan HB X - Harian Jogja/Desi Suryanto
19 Desember 2019 17:07 WIB Sunartono Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Perubahan desain tol Jogja-Solo dari semula melayang (elevated) di sepanjang atas Ring Road menjadi di bawah seperti jalan biasa (at grade) sepanjang dua kilometer begitu memasuki kawanan Monumen Jogja Kembali (Monjali) mengakibatkan bertambahnya kebutuhan pembebasan lahan.

Gubernur DIY Sri Sultan HB X yang mengusulkan perubahan itu demi alasan estetika menyadari konsekuensi tersebut.

“Ya enggak apa-apa [pembebasan lahan lebih luas], kalau enggak [mau at grade] ya enggak jadi [dibangun tol] saja. Daripada merusak [sumbu] imajiner lebih baik enggak jadi,” ujar Sultan di Kepatihan, Kamis (19/12/1029).

HB X sudah memperkirakan luas lahan yang perlu dibebaskan di sekitar Perempatan Monjali.

“Paling sekitar 400 sampai 800 meter saja kan. Yang penting misal sini titik tengah, di sini [kanan] 200 [meter mulai at grade], sini [kiri] 200 [meter at grade] kan paling-paling, 400 sampai 800 meteran,” ujar HB X.

Titik at grade tersebut, lanjut Sultan, nantinya bisa dipakai sebagai pintu keluar dan masuk tol Jogja-Solo. “Ya itu kan juga bisa untuk bisa keluar masuk [exit toll], tetapi tidak boleh pakai elevated di situ,” katanya lagi.

Perubahan Jalan

Lalu lintas di Ring Road sekitar Monjali kemungkinan berubah. Satker Pelaksana Jalan Bebas Hambatan (PJBH) Tol Jogja-Solo menyiapkan berbagai skema perubahan, seperti melebarkan badan jalan atau membuat jalan baru agar mobilitas khalayak yang tidak lewat di tol tidak terganggu.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Satker PJBH Tol Jogja-Solo Totok Wijayanto mengatakan perubahan desain menyebabkan kebutuhan lahan tambah luas. Ring Road Monjali kemungkinan akan tergusur dan diganti menjadi jalan bebas hambatan. Sementara, fungsi Ring Road sebagai jalan umum harus dipertahankan. Jalan yang ada sekarang akan dilebarkan. Perluasan akan dilakukan di kiri dan kanan Ring Road.

Totok mengumpamakan desain elevated hanya butuh hanya tanah 10 meter, sedangkan at grade bertambah jadi 20 meter.

“Gambar masih didesain, gambar desain sempurnanya kami belum lihat, mungkin pekan depan desainnya bisa kami peroleh. Mungkin menambah pembebasan lahan, dulunya kena 10 meter mungkin jadi 20 meter, seperti itu,” katanya melalui sambungan telepon,  Rabu (18/12/2019).

Selain itu, konsekuensi yang harus diterima adalah membuat jalan pengganti dari Ring Road. Ring Road pengganti bisa dibangun di sebelah kiri dan kanan tol.

“Konsekuensinya memindah jalan [Ring Road] atau dibuatkan [jalan baru di sebelah kiri dan kanan tol,” ujarnya.

Panjang tol yang memakai Ring Road sekitar dua kilometer dari sebelum masuk ke perempatan Monjali sepanjang satu kilometer dan setelah perempatan juga satu kilometer.

At grade hitungan biayanya enggak jauh berbeda, cuma lebih memang mahal elevated, tambahnya pembebasan lahan, dibandingkan dengan biaya penggantian lahan masih mahal konstruksinya [elevated],” ucapnya.

Ia memastikan titik yang batal elevated di wilayah DIY hanya kawasan simpang empat Monjali, sedangkan yang lain masih sesuai perencanaan.

Wijayanto mengatakan perubahan desain tol di kawasan Monumen Jogja Kembali (Monjali) saat ini masih digodok. Ia belum mendapatkan salinan perubahaan desain karena masih berada di pusat. Menurutnya, ada beberapa pertimbangan perubahan desain itu, antara lain terkait keselamatan lalu lintas. Selain itu Totok mengaku ada pertimbangan khusus, termasuk dari sisi estetika. Namun, ia enggak menjelaskan detailnya.

“Sebetulnya itu dulu elevated, kemudian ada pertimbangan estetika, pertimbangan ini, diminta untuk diturunkan ya kami turunkan, sebetulnya itu estetika, utamanya estetika. Saya belum tahu persisnya, tetapi biasanya orang Jogja yang lebih paham soal ini, biasanya lebih istimewa daerah tertentu yang memang kuat,” ucap dia.

Sumbu Imajiner

Sri Sultan HB X mengusulkan perubahan tersebut karena Perempatan Monjali merupakan Sumbu Imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, dan Pantai Selatan. Sultan tak mempersoalkan penggunaan sebagian ruas Ring Road untuk jalan tol demi menyelamatkan estetika garis imajiner Jogja.

Sultan mengatakan Pemda DIY yang mengusulkan ke Pemerintah Pusat mengenai perubahan di kawasan Monjali.

“Karena [kawasan Monjali] itu sumbu imajiner,” ujar Sultan.

Sultan mengapresiasi Pemerintah Pusat yang sudah menyetujui usulan tersebut sehingga desain tol bisa segera diubah

“Saya [yang mengusulkan ke Kementerian PUPR], kalau mau, kalau enggak ya enggak jadi [dibangun tol] dan [Pemerintah Pusat] mau untuk diubah [desain] ya sudah, enggak ada masalah,” katanya.