Libur Akhir Tahun, Kusir di Malioboro Bisa Peroleh Rp450.000 dalam Setengah Hari

Sejumlah andong memberangkatkan penumpang secara bersamaan di barat Pasar Beringharjo, Malioboro, Rabu (1/1/2020). - Harian Jogja/Sunartono.
01 Januari 2020 20:07 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Liburan Tahun Baru 2020 memberikan tambahan pendapatan bagi kusir andong yang mangkal di kawasan Malioboro. Beberapa di antara mereka bisa meraup Rp450.000 dalam setengah hari saja.

Sejak Pemda DIY mengembangkan jalur pedestrian Malioboro, andong memiliki tempat parkir sendiri di sisi barat Jalan Malioboro. Di antara ruas trotoar yang dibangun itu ada celah khusus untuk parkir andong yang bisa menampung sekitar 10 andong. Namun tidak setiap titik mangkal itu ramai. Tak jarang, kusir harus menunggu penumpang berjam-jam pada hari biasa.

Berbeda dengan Rabu (1/1/2020). Pada hari pertama di 2020, kusir banyak melakukan tawar menawar harga.

“Seratus [Rp100.000], Pak,” ucap salah seorang wanita calon pengguna terdengar menawar harga jasa transportasi tradisional itu.

“Seratus lima puluh ribu [Rp150.000], nanti mutar, berhenti di mana saja bisa,” jawab kusir yang mengenakan pakaian tradisional Jawa.

“Seratus [Rp100.000], kan dekat,” kata calon pengguna itu lagi.

Njih mangga [ya silakan],” sahut kusir sembari mempersilahkan penumpang naik.

Wisatawan itu pun naik bersama rombongannya yang berjumlah empat orang. Satu dari mereka memilih tempat duduk paling belakang di luar kabin andong.

Begitu seterusnya siang itu. Di parkir barat Beringharjo, datang silih berganti andong yang usai mengantar penumpang dan akan memberangkatkan penumpang.

Banyaknya pengunjung libur tahun baru yang menggunakan jasa andong menggembirakan Tri Hartono kusir asal Gejawan, Balecatur, Gamping, Sleman. Mangkal dari pukul 07.30 WIB hingga 12.30 WIB, ia sudah mengantar tiga rombongan untuk berputar ke kawasan Kraton Jogja hingga sejumlah toko oleh-oleh kawasan Malioboro. Sekali putaran ia meminta ongkos Rp150.000, sehingga dari pagi hingga siang bisa mengantongi Rp450.000.

Layanan itu diberikan tanpa dibatasi waktu dan ia menunggu wisatawan sampai kembali lagi ke Malioboro. Tetapi rata-rata perjalanan hanya sekitar sejam lebih sedikit.

Menurutnya, macet saat libur seperti kali ini bisa berpengaruh pada daya tahan kuda sehingga ia harus memberikan makanan tambahan. Tetapi pada hari biasa, ia mematok tarif sekitar Rp100.000.

“Sampai siang ini tiga kali, [pendapatan] 450 [Rp450.000], satu putaran 150 [Rp150.000],” katanya.

Pria yang menjadi kusir di Malioboro sejak 1975 ini sedang panen. Pada pengujung 2019, Selasa (31/12/2019) ia mampu mengantar enam rombongan dengan pendapatan di atas Rp700.000 dalam sehari. Kenyataan itu sangat berbeda dengan hari biasa yang kadang tidak mendapatkan penumpang, satu kali tarikan saja sudah sangat ia syukuri.

“Kadang tidak dapat juga pernah,” kata pria yang sudah memiliki empat cucu ini.

Kusir lain, Harsono warga Mrican, Giwangan, Umbulharjo, Kota Jogja juga merasakan padatnya Malioboro memberinya banyak keuntungan. Sejak pagi hingga siang ia mengantar dua rombongan untuk memutar ke Kraton dan kembali ke Malioboro. Rp300.000 sudah ia kantongi sampai siang. “Kalau liburan ini ramai, lumayan hasilnya, kemarin saya juga mengantar empat kali, rata-rata ke Kraton,” katanya sembari memberi aba-aba kusir lain yang akan memarkirkan andongnya.