Mangunan Kini Tak Lagi Jadi Idola

Wisatawan berswafoto di Bukit Mojo, Gumelem, Mangunan, Bantul./ Ist. - FIKOMM UMBY
02 Januari 2020 17:27 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Jumlah kunjungan wisatawan ke Mangunan dan sekitarnya selama libur Natal dan Tahun Baru 2020 menurun dibandingkan momen liburan yang sama di tahun lalu. 

Berdasarkan data dari Koperasi Notowono yang merupakan wadah bagi pengelola wisata Mangunan dan sekitarnya, total pengunjung kawasan wisata di Mangunan selama liburan Natal dan Tahun Baru 2020 sebanyak 184.983. Jumlah itu menurun ketimbang tahun sebelumnya yang mencapai 216.076 orang. “Penurunan sampai 14 persen dan hampir terjadi di semua objek wisata di bawah naungan Koperasi Notowono,” kata Ketua Koperasi Notowono, Purwo Harsono, saat dihubungi, Kamis (2/1/2020).

Pria yang akrab disapa Ipung itu mengatakan jumlah kunjungan itu terhitung sejak 21-31 Desember 2019. Sampai saat ini, dia mengaku belum tahu pasti penyebab penurunan kunjungan wisata perbukitan dengan panorama alam terbuka tersebut.

Namun dia menduga karena beberapa faktor di antaranya adalah tren wisata alam sejak dua tahun terakhir viral di berbagai tempat atau banyak wisata alam dengan panorama yang sama makin berkembang di sejumlah tempat.

Selain itu, akses jalan menuju Mangunan dan sekitarnya yang sempit juga dituding jadi salah satu biang penurunan jumlah pengunjung. Menurut Ipung, jalur Imogiri-Mangunan sebenarnya sudah lebar dan bus sudah bisa lewat, namun jalur Mangunan-Terong Dlingo-Patuk (Kabupaten Gunungkidul) sepanjang sekitar 12 kilometer masih terbilang sempit.

Terlebih adanya larangan bus turun lewat Imogiri dan diarahkan lewat Patuk memicu jalur Terong-Patuk pun kian crowded. “Jalur Terong-Patuk itu untuk papasan bus saja tidak bisa. Belum lagi masih ada beberapa titik di ruas jalan itu yang rusak,” kata dia.

Meski begitu, dia enggan menyalahkan soal kesiapan infrastruktur. Bagi dia, tren spot-spot swafoto yang ditawarkan di sejumlah objek wsiata memang tidak akan bertahan lama. Itulah sebabnya, pihaknya juga bakal mengevaluasi tren penurunan wisatawan tersebut yang kemungkinan salah satunya disebabkan kebosanan wisatawan dengan spot swafoto. “Kami mulai mengupayakan agar tidak hanya mnyediakan spot swafoto, tetapi juga mengelola budaya dan menggelar atraksi,” ujar Ipung.