Sekolah & Kampus di DIY Bakal Terkoneksi Trans Jogja, Sri Sultan Akan Persiapkan Jalurnya

Penumpang Trans Jogja turun di halte Jalan MT Haryono, Kota Jogja. - Harian Jogja/Desi Suryanto
08 Januari 2020 15:27 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Universitas Gadjah Mada (UGM) memprakarsai pengembangan angkutan umum di setiap sekolah dan kampus di Jogja agar bisa saling terkoneksi. Tujuannya, agar pelajar dan mahasiswa bisa menggunakan angkutan umum. Keberadaan Trans Jogja akan menjadi embrio dari pengembangan sistem transportasi dengan konsep smart city ini.

Gubernur DIY Sri Sultan HB X menyambut baik rencana ini. Pemda DIY akan memberikan dukungan seperti penambahan jalur dan aplikasi lainnya.

Rektor UGM Profesor Panut Mulyono mengatakan konsep yang dipaparkan UGM terkait dengan rencana menguatkan transportasi umum di Jogja dikaitkan dengan kampus, sekolah, agar masyarakat lebih tertarik menggunakan angkutan umum.

Sehingga kampus tidak penuh dengan kendaraan bermotor baik motor maupun mobil sehingga kampus atau sekolah lebih nyaman proses belajar bisa berjalan dengan baik. "Sekaligus menata transportasi internal kampus yang dihubungkan dengan transportasi umum," kata Panut di kompleks Kepatihan, Jogja, Selasa (7/1/2019).

UGM merencanakan sistem transportasi di kampus yang ramah lingkungan, mudah diakses kemudian dihubungkan dengan tranportasi luar kampus. Sehingga transportasi perkotaan seperti Trans Jogja yang memungkinkan kerja sama dengan UGM agar mahasiswa tidak banyak membawa kendaraan tetapi mudah mendapatkan akses angkutan umum baik dari indekos maupun tempat tinggalnya.

Dari sisi teknologi, kata Panut, UGM memiliki perantinya seperti alat untuk memantau jumlah dan jenis kendaraan yang lewat di setiap jalan. Teknologi itu bisa menginformasikan jumlah kendaraan di suatu jalur pada jam tertentu bisa diketahui. Termasuk kapan waktu harus mengatur rekayasa durasi lampu bangjo secara otomatis dengan menyesuaikan kondisi kepadatan arus.

"Kemudian bagaimana mengembangkan transportasi perkotaan yang lebih nyaman. Kami juga sampaikan [ke Gubernur DIY], bahwa kemungkinan UGM sebagai tempat untuk mengelola big data sistem transportasi smart city, menjadi tempat pemantauan dan pengaturan sistem transportasi di Jogja," jelasnya.

Pakar Transportasi Fakultas Teknik UGM Profesor Munawar menambahkan untuk mendukung ini Kampus Biru sudah menyiapkan kendaraan shuttle dengan mobil listrik di internal kampus untuk mengirim penumpang ke halte angkutan perkotaan.  UGM berkomitmen terhadap rencana ini untuk mewujudkan green campus yang salah satunya green transportation.

"[Embrio angkutan perkotaannya] Trans Jogja tetapi akan diperbaiki trayek, jumlah dan waktu beroperasinya. Kalau halte jauh dipindahkan atau ditambah ke yang dekat kampus atau sekolah. Nanti jadi satu [dengan Trans Jogja], tetapi ada tarif khusus untuk pelajar dan mahasiswa," ucapnya. 

Dekan Sekolah Pascasarjana UGM Profesor Siti Malkhamah mengatakan beberapa waktu lalu perguruan tinggi dan sekolah di Jogja sudah berkumpul melakukan diskusi beberapa kali untuk merealisasikan rencana agar mahasiswa dan pelajar menggunakan transportasi umum. Banyak kampus dan semua sekolah negeri menyatakan kesepakatannya. Sehingga ke depan halte pemberhentian harus diperbanyak serta armadanya dapat ditambah serta jadwalnya disesuaikan dengan waktu kuliah dan sekolah. "Ini dikembangkan secara bersama dari Pemda DIY, universitas dan untuk sekolah hampir semua SMP dan SMA itu ikut hadir dalam pembahasan," kata wanita yang juga pakar transportasi ini.

Ia berharap konsep itu bisa segera diterapkan tetapi sangat tergantung dengan mahasiswa dan pelajar selaku pengguna transportasi. Program ini tetap akan menjadi Trans Jogja sebagai embrio.

Hal ini akan meningkatkan jumlah penumpang Trans Jogja yang saat ini belum terlalu banyak terutama pelajar dan mahasiswa. Konsep ini nantinya disinkronisasi antara Trans Jogja dengan kebutuhan kampus dan sekolah. Sehingga rute dan jumlah halte akan disesuaikan dengan kampus dan sekolah serta perlunya penambahan armada.

"Intinya mempermudah pelajar dan mahasiswa, tetapi Trans Jogja sekaligus bisa melayani sesuai yang dibutuhkan seperti sekolah yang enggak terlambat, bayarnya bisa tahunan murah," katanya.

Ia mengatakan dari sisi anggaran tentu tidak bisa digratiskan melainkan dengan sistem subsidi. Subsidi angkutan tidak hanya ditanggung dari Pemda DIY, melainkan bisa jadi banyak pihak seperti kampus dan sekolah. Menurutnya jumlah penumpang sangat mempengaruhi besaran subsidi. Jika jumlah penumpang banyak, subsidi yang harus ditanggung tidak terlalu tinggi.

Siapkan Jalur

Sultan menyambut positif adanya keinginan kampus dan sekolah ingin membangun jalur angkutan umum agar bisa dimanfaatkan mahasiswa dan pelajar. Pemda DIY akan menyiapkan jalur hingga aplikasi yang dibutuhkan ke depannya. "Kalau kami ya mempersiapkan jalur, kemudian aplikasinya, ini kan membangun kerja sama sistem jaringan," katanya seusai menemui tim dari UGM di Kepatihan.

Sultan menilai konsep penggunaan angkutan umum bagi pelajar dan mahasiswa ini baiknya harus segera direalisasikan. Untuk menerapkannya memang butuh dukungan banyak pihak agar menjadi program bersama. Berbagai pihak yang berkepentingan harus dipertemukan untuk membahasnya lebih detail.

"Kalau dikerjakan sekarang ya harus sekarang, tidak bisa enggak, kalau enggak [sekarang], enggak bisa jalan nanti. Konsisten saja, yang penting kita bertemu dalam konteks lebih luas, untuk bisa membuat jadwal, bagaimana untuk investasi, melaksanakan aplikasi itu menjadi program bersama," ujarnya.

Rencana ini tidak harus diterapkan untuk semua perguruan tinggi atau sekolah. Menurut HB X bisa diterapkan beberapa kampus dan sekolah lebih dahulu. Ia meyakini kampus dan sekolah lainnya perlahan akan mengikuti jika sudah ada contoh.

"Kalau bisa dilakukan biar pun belum semua tetapi bisa dimulai dari tiga sampai empat sekolah sama universitas asal jalan dulu. Nanti yang lain menyusul," ucapnya.

Sultan berharap rencana ini bisa terealisasi mulai di 2020. Terutama dalam mendukung Trans Jogja yang saat ini sudah ada. Sehingga Trans Jogja tentu akan ada penyesuaian dan penambahan rute pada sekolah dan kampus jika rencana ini dijalankan. "Semoga saja [2020 bisa mulai terlaksana]. Trans Jogja kan sudah ada, nanti terkait dengan jam [waktu tunggu] mungkin ada revisi, karena mungkin berhentinya lebih panjang. Perkara [armada] diperbanyak atau tidak, tergantung potensi yang ada di situ. Terpaksanya nanti kalau jalur lama perlu diperbanyak ya [ditambah jalur]," katanya.

Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini menambahkan konsep angkutan pelajar mahasiswa ini nantinya juga bisa terkoneksi dengan angkutan umum menuju Yogyakarta International Airport (YIA) yang akan dibangun Kemenhub bersama daerah. Sehingga program angkutan ini juga ke depan bisa dilewatkan pada kampus dan sekolah pada jam tertentu. Sehingga harus dicocokkan dengan jadwal mahasiswa masuk dan pulang kuliah serta jadwal pelajar masuk dan pulang sekolah. Jadwal angkutan berhenti itu harus disesuaikan. "Kalau [jadwalnya angkutan] enggak pas kan enggak [ada yang] naik," katanya.