Ini Dia Salah Satu Penyebab Tanah Longsor yang Kerap Tak Disadari Warga

Ilustrasi tanah longsor. - Istimewa/BPBD Sleman
08 Januari 2020 20:27 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Masyarakat diminta mewaspadai aliran air yang mengalir saat hujan guna mengantisipasi bencana tanah longsor. Badan Penanggulangan dan Bencana Daerah (BPBD) Sleman menyinyalir bencana tanah longsor yang masih terjadi di Bumi Sembada selama ini adalah lantaran aliran air yang tidak diatur dengan baik sehingga memicu tanah longsor.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Makwan, mengatakan aliran air kecil yang berasal dari air hujan yang terjadi secara terus menerus, jika tidak dibarengi dengan mekanisme pembuatan aliran air yang baik akan memicu tanah longsor.

Dia mencontohkan tanah longsor yang terjadi di talut Selokan Vandervick, tepatnya di RT 3/RW 07 Jambeyan, Banyurejo, Tempel dengan panjang 11 meter dan tinggi sekitar tujuh meter, beberapa hari lalu. Ambrolnya talut itu menimbulkan retakan selebar empat meter yang disebabkan oleh aliran air kecil yang kemudian menjadi besar dan selanjutnya mengikis tanah. "Longsor tidak bisa diprediksikan, itu karena persoalan kecerobohan, itu awalnya aliran kecil namun karena tidak diperhatikan maka menjadi aliran air yang besar," ujar Makwan, Rabu (8/1/2020).

Terlebih dari catatan BPBD Sleman, akibat kecerobohan tersebut, beberapa wilayah yang sebelumnya relatif aman, akhirnya terjadi tanah longsor.

Sedangkan tanah longsor yang terjadi di Kecamatan Prambanan, menurut dia, hal itu adalah kasus yang berbeda. “Kalau di Prambanan, murni dilatarbelakangi alasan geografis. Di permukaan yang miring, material yang ada di atas ketika diguyur hujan kemudian tanah menjadi jenuh, lalu tidak kuat menahan dan tanah longsor pun terjadi," ujarnya.

Di Prambanan, lanjut Makwan, BPBD juga sudah melakukan penguatan tebing di wilayah yang dinilai rawan longsor. Begitu pula dengan aliran air, dinasnya juga sudah memnyiapkan saluran yang terarah, sehingga air tidak mengalir dengan liar dan berujung pada pengikisan tanah. “Kami melakukan penguatan tebing di sejumlah titik di Prambanan, di antaranya adalah Gayamharjo, Bokoharjo, Wukirharjo, Sambirejo, dan Sumberharjo,” ucap dia.