Hadapi Kemarau Panjang, Warga Gunungkidul Diminta Bijak Memakai Air
Kemarau hingga 7 bulan diprediksi terjadi di Gunungkidul. BPBD siapkan jutaan liter air, warga diminta hemat sejak dini.
Ilustrasi nyamuk DBD/JIBI
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Gunungkidul mulai memakan korban jiwa. Seorang pasien di RSUD Wonosari bernama Alifa Rosita,11 asal Desa Wareng, Wonosari meninggal dunia saat menjalani perawatan pada Jumat (10/1/2020).
Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi RSUD Wonosari, Sumartana, mengatakan di awal Januari RSUD Wonosari merawat 12 pasien DBD. Dari jumlah korban ini, satu pasien bernama Alifa Rosita dinyatakan meninggal dunia. “Korban positif DBD. Kami sempat merawat tapi nyawanya tidak bisa ditolong,” kata Sumartana saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (13/1/2020).
Dia menjelaskan tim medis sudah berusaha untuk menolong korban, tapi berdasarkan hasil pemeriksaan korban terlambat dirujuk ke rumah sakit sehingga nyawanya tak tertolong. “Datang sudah dalam kondisi sakit parah,” katanya.
Sumartana mengatakan kasus korban meninggal DBD sudah dilaporkan ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul. Menurut dia, korban meninggal merupakan yang pertama di 2020. “Untuk 2019 RSUD Wonosari merawat 297 pasien DBD, tapi tidak ada yang meninggal dunia,” katanya.
Untuk mengurangi risiko fatal penyakit DBD, masyarakat diminta mengenali ciri-ciri awal penyakit yang disebabkan oleh nyamuk aedes aegypti tersebut. “Mengenali tanda penyakit demam berdarah ini penting sehingga korban dapat diselamatkan,” katanya.
Kepala Dinkes Gunungkidul, Dewi Irawaty, saat dikonfirmasi membenarkan adanya inforamsi salah satu pasien RSUD Wonosari meninggal dunia karena DBD. Meski demikian, jajarannya masih harus melakukan kajian di lapangan untuk mengetahui penyebab pasti dari kematian itu. “Untuk penetapan kejadian luar biasa [KLB], saya kira belum karena kami masih berusaha untuk melakukan penanganan. Kalau bisa dikendalikan, maka tidak perlu ada KLB,” kata Dewi.
Terlepas dari adanya korban meninggal dunia karena DBD, Dewi mengakui masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap penyekit DBD. Sesuai dengan siklus berkembangbiak nyamuk, musim hujan merupakan waktu yang rawan terjadinya serangan DBD. “Harus diantisipasi agar penyebaran penyakit DBD tidak semakin meluas,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kemarau hingga 7 bulan diprediksi terjadi di Gunungkidul. BPBD siapkan jutaan liter air, warga diminta hemat sejak dini.
Ketimpangan antara jumlah advokat profesional dan masyarakat pencari keadilan di Indonesia masih menjadi isu sistem peradilan.
Kemkomdigi mengkaji aturan wajib nomor HP untuk registrasi akun media sosial guna memperkuat keamanan dan akuntabilitas ruang digital.
Seiring perkembangan teknologi ada metode yang disebut dengan backfilling untuk mengelola limbah tambang agar tak merusak lingkungan.
Pemkab Bantul memastikan tidak lagi membuka rekrutmen honorer baru dan fokus menyelesaikan tenaga non-ASN melalui skema PPPK.
Sam Altman mengungkap Gen Z kini memakai ChatGPT sebagai penasihat hidup, berbeda dengan generasi tua yang masih menggunakannya seperti Google.