Beredar Pesan Berantai Berisi Nama-Nama Geng Pelajar di Jogja, Ini Tanggapan Sekolah

Pelajar yang diduga anggota geng diperiksa di Polresta Jogja, Minggu (12/1/2020). - Harian Jogja - Lugas Subarkah
17 Januari 2020 16:07 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJAKekerasan jalanan atau klithih oleh pelajar di Kota Jogja kembali mencuat akhir-akhir ini. Geng sekolah dinilai sebagai pemicu keberingasan tersebut. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Lugas Subarkah.

Bpk/Ibu terkait dgn "Klithih" yang melibatkan para pelajar, berikut info ttg "Ghenk" di DIY. Monggo sbg bahan mawas diri & saling menjaga kenyamanan praktik pendidikan DIY, menjauhkan diri tindak saling menyalahkan. Terimakasih.” Kalimat itu tertulis di sebuah pesan soal geng sekolah yang beredar di media sosial. Pesan berantai itu tersebar tak lama setelah aksi klithih marak lagi di Kota Pelajar ini.

Di dalam pesan itu tertulis lengkap sekolah, alamat sekolah, nama geng sekolah, tempat kumpul geng hingga siapa lawan geng tersebut.

Sekolah yang terdaftar dalam pesan itu mulai dari SMP hingga SMA sederajat.

Salah satu sekolah yang tercantum dalam daftar ini adalah SMA Negeri 8 Jogja. Di situ disebutkan sekolah ini memiliki geng bernama Cantin Boyz (CBZ), dengan tempat nongkrong angkringan timur sekolah. Kemudian musuh dari CBZ yakni Ranger atau geng SMA Muhammadiyah 3 Jogja.

Saat Harian Jogja mengkonfirmasi hal ini, Kepala SMA N 8 Jogja, Rudy Prakanto, menyatakan sudah sejak 2018 lalu geng CBZ tidak terlihat lagi aktivitasnya. Meski demikian, label CBZ sampai saat ini masih terus melekat pada SMA N 8, yang ini sedang berusaha ia hilangkan.

Menurutnya, daftar geng yang beredar itu patut dipertanyakan validitasnya. Pasalnya kata dia, jika disurvei ke sekolah-sekolah, sebagian besar sudah tidak ada lagi gengnya. “Fenomena ini bisa dilihat dari tidak ada lagi coret-coret atau yang mereka sebut bomb CBZ di jalan-jalan, yang menunjukkan eksistensi mereka sudah tidak ada,” ujarnya, Kamis (16/1/2020).

Kemunculan CBZ, kata dia, bermula dari aktivitas nongkrong di luar jam sekolah yang membuat para siswa melabeli diri dan pada akhirnya memunculkan perilaku destruktif untuk menunjukkan eksistensinya. Meski demikian ia mengungkapkan anggota geng ini dulu sebenarnya tidak banyak, hanya berkisar 10 sampai 20 anak. “Meski hanya sedikit, tapi saat mereka menunjukkan sisi nakalnya, satu sekolah langsung terlebeli negatif,” ungkapnya.

Ia mengklaim saat ini regenerasi geng tersebut sudah terputus. Beberapa hal yang ia lakukan untuk menangani geng ini, di antaranya secara persuasif mengimbau orang tua untuk tidak mengizinkan ikut organisasi di sekitar sekolah selain OSIS MPK.

“Kedua kami memberi ruang yang cukup dan kesempatan yang luas, seluruh kegiatan yang dilakukan di lingkungan sekolah, dalam event apapun, dalam kendali dan dijalankan oleh OSIS dan MPK, bukan yang lain. Sehingga masuk dalam struktur OSIS dan MPK,” katanya.

Sekolah juga memantau aktivitas sekaligus berkomunikasi dengan para siswa dengan media whatsapp group di setiap kelas yang berisi para siswa dan wali kelas, juga whatsapp group yang berisi wali kelas dan wali murid. “Misal orang tua menanyakan kok anaknya belum pulang, wali kelas langsung mengecek ke para siswa yang lain,” ujarnya.

Guna memutus regenerasi, sekolah me-treatment lokus geng, yakni pada tempat nongkrong. Beberapa guru ditugaskan untuk sering mengunjungi angkringan tempat nongkrong geng, sehingga lama kelamaan anggota geng merasa risih.

Regenerasi juga kerap terjadi pada kegiatan ekstrakulikuler, di mana senior memegang kendali kegiatan dan mendominasi juniornya. Kesempatan ini sering dimanfaatkan untuk mengajak siswa baru bergabung geng. Untuk itu, sekolah membatasi peran senior dalam setiap kegiatan dan selalu menempatkan guru atau professional yang akan memastikan tidak terjadinya regenerasi geng sekolah.

Pemberian sanksi pada siswa yang terbukti terlibat dalam geng, kata dia, adalah sanksi edukatif. Ia tidak mengeluarkan siswa dari sekolah, melainkan menugaskan siswa untuk live ini di lembaga sosial Yakkum. Di sana mereka berbaur dengan penghuni selama beberapa hari. “Diharapkan akan tumbuh kesadaran, bahwa kita yang tubuhnya sempurna ini tidak semestinya menyia-nyiakan masa muda dengan kegiatan destruktif,” katanya.

Sekolah lain yang disebutkan dalam daftar itu yakni SMA Muhammadiyah 2 Jogja. Di sekolah ini gengnya disebut Remaja Alim Ning Gelem Rusuh (Ranger), dengan tempat nongkrong di angkringan depan SMA Muhammadiyah Jogja dan angkringan barat Kantor Kejaksaan.

Ranger disebutkan memiliki musuh cukup banyak, meliputi Vozter, Vascal, Respect, CBZ, Morenza, RIB, Stepiro, Stemsa, BBC dan Hammer.

Kepala SMA Muhammadiyah 2 Jogja, Slamet Purwo, membantah aktivitas geng masih seriuh itu dan memiliki musuh sebanyak itu.

Ia melihat berdasarkan pengalamannya bekerja di SMA Muhammadiyah 2 Jogja selama enam tahun, dinamika geng sudah relatif berkurang. “Sekarang bisa dilihat di angkringan sekitar sekolah yang dulu tempat nongkrong sekarang sudah bersih semua,” kata dia.

Sekolah, kata dia, telah menerapkan peraturan ketat. Jika ada siswa terbukti terlibat geng, sekolah akan langsung mengembalikannya pada orang tuanya. Namun sebelum itu, sekolah juga memantau track record siswa melalui sistem poin, yang pada angka tertentu, wali murid akan dipanggil dan siswa diberi pembinaan khusus.

Kumpulkan Guru BK

Plt Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY, Bambang Wisnu Handoyo, mengatakan salah satu langkah untuk menangani kekerasan pelajar ia akan mengumpulkan guru  Bimbingan Konseling (BK) setiap sekolah untuk menelisik latar belakang muridnya.

Menurutnya, semestinya sekolah berhak mengetahui latar belakang keluarga. Penanganan klithih, kata dia, perlu dibedakan berdasarkan latar belakang siswa. “Jangan hanya tahu data siswa, tapi harus bisa digali lebih dalam lagi,” katanya.

Sekolah, kata dia, juga jangan hanya mengundang siswa yang terlibat geng setelah terjadi klithih, tapi harus bisa mengantisipasi. Menurutnya, salahs atu penyebab klithih juga berasal dari sistem pendidikan sendiri, yang masih menerapkan pemeringkatan berdasarkan nilai akademik.