Sebelumnya Jelas Sebut 60% SMA Sleman Terpapar Radikalisme, Kini FKPAI Cabut Pernyataan

SMA Muhammadiyah Al-Mujahidin, membacakan ikrar antiradikalisme, Senin (14/5). - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
17 Januari 2020 22:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Kantor Kemenag Sleman dan Kanwil Kemenag DIY bergerak cepat menelusuri isu 60% SMA di Sleman terpapar paham radikal. Kemenag pun membantah pernyataan Ketua Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI) Sleman Unsul Jalis tersebut.

Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam Kemenag (PAIS) Sleman, Suharto menjelaskan isu tentang SMA-SMA di Sleman terpapar radikal tidak benar. Menurutnya, FKPAI tidak pernah melakukan penelitian tersebut. "Angka 60% yang disebut dalam pemberitaan tersebut berasal dari kabar-kabar yang beredar di media sosial," katanya saat gelar jumpa pers di Kantor Kemenag Sleman, Jumat (17/1/2020).

Dijelaskan Suharto, selama ini Kemenag melakukan pembinaan kepada para pelajar. Mulai permasalahan narkoba, miras, radikalsime maupun klithih. Pihaknya juga melakukan pembinaa kepada para rohis. "Hasilnya tidak ada indikasi anak-anak itu terpapar paham radikal," kata Suharto.

Senada dengannya, Kabid PAKIS Kemenag DIY Masrudin menjelaskan selama ini Kemenag rutin melakukan monitoring ke sekolah-sekolah. Pihaknya mengklaim tidak menemukan ajaran radikalisme di jajaran Rohis. "Kami melakukan monitoring ke sekolah-sekolah dan selama ini tidak menemukan ajaran radikalisme di jajaran Rohis," kata Masrudin.

Diberitakan sebelumnya, Ketua Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI) Sleman Unsul Jalis menyebut sekitar 60% SMA di Sleman terpapar paham radikalisme. Tidak hanya itu, sekitar 30% guru juga terpapar paham radikalisme. Angka tersebut muncul setelah dilakukan penyebaran angket pada 2019 lalu.

Hanya saja, dalam konferensi pers tersebut Jalis justru mengemukan hal yang bertolak belakang.

Ia menarik seluruh pernyataannya. Dia mengaku jika tidak ada penelitian yang dilakukan terkait paham radikali di sekolah-sekolah. Menurut Unsul, itu berasal dari berita-berita penelitian bersifat nasional yang disebut banyak beredar di media sosial.

"Saya anggap saya belum pernah mengucapkan. FKPAI belum pernah melakukan penelitian itu. Saya mohon maaf sbesar-besarnya. Saya hanya banyak membaca soal penelitian. Di tingkat nasional memang ada yang mendekati 60%," katanya.

Menurutnya munculnya masalah ini (terkait radikalisme) sebagai bentuk keprihatinan FKPAI. Para penyuluh merasa prihatin dengan gerakan radikalisme sehingga dibutuhkan gerakan deradikalisasi. Justru, FKPAI ingin dekat dengan rohis-rohis untuk membangun persahabatan.

"Untuk Sleman insya Allah aman, insya Allah tenang, tapi justru tenang ini kesempatan kita masuk sebagai langkah antisipasi," ujar Unsul.

Padahal dalam pernyataan sebelumnya ia dengan jeas menyebut bahwa angka 60% tersebut didapat dari hasil menyebar angket pada 2019 bukan dari analisis di berbagai media nasional. " "Itu data hasil kajian dari angket yang kami sebar di seluruh SMA Negeri dan Swasta pada 2019 lalu," katanya kepada Harianjogja.com, Rabu (15/1/2020) lalu.