Peringati Usia Tujuh Dasawarsa, ASRI Bertekat Hadapi Stigma Sebelah Mata

Suasana acara Peringatan Harlah ke-70 ASRI di GSG ISI Jogja, Senin (20/1/2020). - Harian Jogja/Hery Setiawan
20 Januari 2020 15:17 WIB Hery Setiawan Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), tahun ini genap berusia 70 tahun. Selama tujuh tahun, akademi yang kini telah bertransformasi menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja tersebut telah banyak mencetak seniman-seniman ulung dengan militansi yang besar, terutama di bidang seni rupa.

Meski telah menjelma menjadi ISI Jogja, spirit militansi ASRI diharapkan mampu mengatasi persoalan yang kini dianggap membelit dunia kesenian, khususnya seni rupa, yakni stigma sebelah mata oleh publik. “ASRI selalu berkomitmen ingin berkontribusi di berbagai bidang. Tantangannya adalah seni masih dianggap sebelah mata oleh sebagian orang,” kata Nano Warsono, Penanggung Jawab Kegiatan Peringatan Hari Lahir (Harlah) 70 Tahun ASRI yang digelar di Gedung Serba Guna (GSG) ISI Jogja, Senin (20/1/2020).

Peringatan harlah ASRI tahun ini, imbuh Nano, digelar dengan tema Lintas Cita dan Cipta Seni Rupa Indonesia. Menurut dia, sepanjang sejarah, ASRI telah muncul sebagai kekuatan baru dalam konteks kebudayaan hari ini. Wujudnya adalah dengan mengambil posisi penting pembangunan melalui jalur kesenian. Kami memberi sumbangsih dalam wujud karya,” ujarnya.

Baginya, seni merupakan penyeimbang terhadap teknologi yang telah lama jadi pilihan utama alat pembangunan. Melalui seni, pembangunan bisa dioperasikan menjadi lebih humanis. “Dalam sejarahnya, ASRI dan UGM berdiri pada saat yang bersamaan. UGM berkontribusi melalui teknologi, kami berkontribusi lewat seni. Keduanya saling menonjol dan memberikan keseimbangan yang memperkuat karakter bangsa,” katanya.

Dekan Fakultas Seni Rupa ISI Suastiwi Triatmodjo menjelaskan kegiatan Peringatan Hari Lahir (Harlah) 70 Tahun ASRI digelar dengan beberapa kegiatan, di antaranya peluncuran buku 70 Tahun ASRI; orasi kebudayaan oleh Dr. Haryatmoko; pengumuman hasil Kongres Alumni ASRI; serta pemberian Piala Pratisara ASRI. “Penghargaan ini diberikan kepada alumnus yang telah berdiri di garis depan dalam pemikiran, penciptaan, maupun bekerja secara nyata bagi lembaga dan dunia seni rupa Indonesia pada umunya,” ujar dia.

Sekadar catatan, ASRI berdiri sejak 15 Desember 1949 melalui Surat Keputusan (SK) Menteri Pengajaran Pendidikan dan Kebudayaan (PP dan K) No.32/1949. Namun, pengesahannya baru dilakukan pada 15 Januari 1950 oleh S. Mangunsarkoro selaku Menteri PP dan K waktu itu.

Dalam perjalanannya, ASRI pernah mengalami perubahan status, yaitu pada 4 November 1968 ketika berganti menjadi Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI). Lalu bersama dengan Akademi Musik Indonesia (AMI) dan Akademi Seni Tari (ASTI), ASRI meleburkan diri menjadi sebuah institusi pendidikan seni yang kita kenal hingga saat ini, yaitu ISI Jogja. Meski telah berganti berkali-kali, nama ASRI tetap dikenal sebagai pelopor pendidikan seni rupa di Indonesia. ASRI akan selalu asri hingga kini.