Derita Warga Terdampak Tol: Mbah Purwo Mogok Makan, Mbah Bejo Bingung Mau ke Mana

Mbah Purwo warga RT 5 RW 2 Temanggal 1 Purwomartani Kalasan. Lokasi RT 5 RW 2 Temanggal 1 Purwomartani Kalasan seluruhnya tergusur jalan tol.-Harian Jogja - Abdul Hamid Razak
21 Januari 2020 22:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Wilayah Temanggal 1, Desa Purwomartani, Kalasan, Sleman menjadi area terdampak proyek Tol Jogja-Solo (Joglo). Bahkan warga di satu RT di wilayah itu terdampak proyek tersebut. Berikut laporan Wartawan Harian Jogja Abdul Hamid Razak.

Raut sedih Mbah Purwodiharjo, 74, masih belum hilang. Warga RT 5 RW 2 Temanggal 1, Desa Purwomartani, Kalasan ini bahkan menangis sejadi-jadinya kala mengetahui rumah tinggal yang selama ini turun-temurun ditinggali harus tergusur oleh pembangunan jalan tol Jogja-Solo (Joglo).

Bahkan saking sedihnya, Mbah Purwo sempat "mogok makan". Rasa mood-nya sempat hilang, yang ada hanya rasa bingung, sedih dan kegalauan. Beruntung, tujuh anak-anak Mbah Purwo terus menyemangatinya. "Saya generasi ketiga yang menempati rumah ini. Banyak kenangan, saya ingat satu persatu," kata janda dengan enam buyut ini, saat ditemui Harian Jogja, Jumat (17/1/2020).

Rumah yang ditinggali Mbah Purwo memang tidak mentereng. Selama ini, dia tinggal bersama salah seorang anak dan cucunya. Meski bangunan lama tetapi lantainya sudah dikeramik. Halaman rumahnya juga cukup luas. Sebagai petani, kehidupan Mbah Purwo cukup sederhana. Kalau bukan karena proyek jalan tol dan permintaan negara, dia mengaku tidak akan menjualnya. "Saya punya tujuh anak. Rumah dan tanahnya ini menjadi hak mereka. Kalau nanti ganti untungnya dibagi rata, apa iya bisa untuk membeli tanah dan membangun rumah?," katanya.

Mbah Purwo masih beruntung tidak kebingungan mencari tempat tinggal baru. Jika memang nanti kesulitan mendapatkan lahan pengganti untuk membangun rumah barunya, Mbah Purwo akan menempati lahan sawahnya. "Saya tidak ingin jauh-jauh dari sini, dari leluhur saya," ujarnya.

Kondisi berbeda dirasakan, Mbok Sariah, yang merupakan tetangga Mbah Purwo. Rumah Sariah di RT 5 juga tergusur proyek jalan Tol Joglo. Perempuan separuh baya ini hanya tinggal dengan keponakannya. Parahnya, Mbok Sariah mengidap penyakit komplikasi sehingga ia harus kontrol rutin ke puskesmas terdekat. "Kalau bisa, pemerintah juga memikirkan kami yang sudah tua untuk mencarikan tanah pengganti. Soalnya tidak mudah mencari tanah pengganti," katanya.

Permintaan yang sama diutarakan Bejo, warga Karanglo, Purwomartani, Kalasan. Kakek yang sudah berusia 85 tahun ini sudah tidak tahu lagi harus berbakat apa. Ketika mengetahui seluruh bangunan rumahnya masuk dalam peta proyek pembangunan tol.

Matanya hanya bisa berkaca-kaca saat dimintai tanggapan. Nyaris Mbah Bejo tak memiliki semangat setelah mendapatkan sosialisasi di Balai Desa Purwomartani. "Saya sudah tua. Usia saya sudah 85 tahun. Saya bingung, mau pindah ke mana. Entah gimana lagi nggak punya rumah," katanya.
Selama ini, dia tinggal dengan anak dan cucunya. Dia berharap agar pemerintah juga memikirkan lokasi baru untuk tempat tinggalnya kelak jika rumah satu-satunya hilang. Sebelum langkah kakinya menuju parkiran untuk mengambil sepeda onthelnya, Bejo berharap agar pemerintah bisa membantu mendapatkan lahan pengganti. "Harapannya saya sudah tipis, sudah tua gini. Kalau bisa dicarikan tempat tinggal yang baru, saya ucapkan terima kasih," ujar Bejo.

Bentuk Tim

Dukuh Temanggal 1 Sugiharto mengatakan ada sekitar 150 warganya dalam satu RT tergusur pembangunan jalan tol Jogja-Solo. Dari jumlah tersebut, sekitar 30% sudah berusia lanjut. "Total ada 32 rumah yang tergusur. Itu dalam satu RT," katanya.

Awalnya, kata Sugi, warga mengusulkan agar pemerintah kembali mempertimbangkan dan menggeser trase tol. Namun permintaan warga tidak bisa dikabulkan dengan alasan akan mengubah semua trase. "Akhirnya warga meminta untuk direlokasi saja. Namun permintaan ini juga susah karena tidak mudah mendapatkan lokasi untuk satu RT," katanya.

Untuk memudahkan koordinasi antarwarga yang terkena dampak pembangunan jalan tol, warga sepakat membentuk satu kepanitiaan. Tim ini, kata Sugi, akan menjadi juru komunikasi bagi warga, termasuk saat proses pembahasan ganti untung.

Jangan sampai, katanya, warga yang sudah terlanjur kehilangan rumah, tanah dan sawahnya justru bernasib tragis. Kesulitan mendapatkan lahan pengganti. "Bagaimana pun warga mendukung program pemerintah. Dia juga berharap mereka dipermudah mendapatkan tanah pengganti," katanya.
Selain itu, fasilitas umum seperti makam yang terkena dampak juga harus direlokasi tidak jauh dari tempat baru warga. "Menggunakan tanah kas desa [TKD] tidak mudah. Harus izin dari gubernur. Selain itu, tukar gulingnya juga susah karena mencari lahan pengganti tidak mudah," kata Sugi.

Dia berharap agar ada solusi dari pemerintah untuk menjawab kegusaran warganya itu. (hamied@harianjogja.com)