63 Ribu Anak Gunungkidul Berpeluang Masuk Sekolah Rakyat
Sebanyak 63 ribu anak di Gunungkidul masuk kriteria calon siswa Sekolah Rakyat 2026 untuk keluarga miskin dan anak putus sekolah.
Gito Suwarno, seorang petani di Dusun Karanggumuk, Desa Kemejing, Kecamatan Semin, memelihara tanaman padi di lahan milikinya, Rabu (22/1/2020)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Petani di Dusun Karanggumuk, Desa Kemejing, Kecamatan Semin, resah karena lebih dari sepekan hujan tak kunjung turun. Kondisi ini diperkirakan akan mengganggu pertumbuhan tanaman padi yang ditanam petani.
Salah seorang petani di Dusun Karanggumuk, Gito Suwarno, mengatakan padi yang ditanam mulai terancam kekeringan. “Sudah hampir 10 hari hujan tak turun dan ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman padi,” katanya saat ditemui Harian Jogja, Rabu (22/1/2020).
Menurut dia, dampak dari hujan yang berhenti turun sudah mulai terlihat, di mana tanaman padi mulai mengering. Selain itu, pertumbuhan juga terganggu meski penanaman dilakukan di waktu bersamaan. Sebagai contoh, di satu petak lahan miliknya, sebagian tanaman ada yang masih subur, sementara di bagian lain ada yang mulai mengering. “Ini belum seberapa karena di petak lain ada padi yang daunnya mulai menguning karena kekurangan air,” katanya.
Gito berharap hujan bisa segera turun sehingga padi yang ditanam mendapat pasokan air sehingga dapat tumbuh subur dan dapat berproduksi maksimal. “Kalau terus mengering susah, padi sulit tumbuh dengan baik,” katanya.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul, Raharjo Yuwono, membenarkan bahwa wilayah Gunungkidul sempat beberapa hari tidak diguyur hujan. Menurut dia, kondisi ini termasuk anomali cuaca yang dipengaruhi oleh embusan angin dari benua Australia. “Ada anomali cuaca, tapi tidak lama. Buktinya kemarin [Selasa 21/1] sudah ada wilayah yang diguyur hujan,” katanya.
Raharjo memastikan hingga saat ini tidak ada laporan tanaman padi milik petani yang terancam puso. Dari sisi dampak, anomali cuaca ini berdampak terhadap lahan seperti munculnya retakan-retakan tanah hingga daun padi yang mulai mengerut. Hanya, kata dia, hal tersebut masih dalam batas kewajaran karena pasokan air berkurang. “Saat hujan turun, tanaman kembali tumbuh. Untuk retakan tanah, juga belum jadi masalah karena masih ada kandungan air untuk memasok kebutuhan air pada padi,” katanya.
Selain berharap agar hujan segera turun, untuk pemeliharaan lahan pertanian para petani diminta untuk rutin mengamati hama. Hal ini dibutuhkan agar deteksi dilakukan sejak dini sehingga saat ada potensi serangan bisa langsung ditangani. “Jangan sampai parah baru ditangani karena akan berpengaruh terhadap produksi. Untuk antisipasi pengamatan hama harus dilakukan secara berkala,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 63 ribu anak di Gunungkidul masuk kriteria calon siswa Sekolah Rakyat 2026 untuk keluarga miskin dan anak putus sekolah.
Banjir di Sintang Kalimantan Barat putuskan 13 jembatan gantung. Ribuan warga terdampak, distribusi bantuan terkendala.
PSIM Jogja incar 10 besar Super League. Laga penentuan lawan Arema FC jadi kunci di pekan terakhir.
Mahkamah Agung tolak PK kasus korupsi selter tsunami Lombok. Vonis 6 tahun penjara tetap berlaku.
Garebeg Besar Jogja digelar sederhana. Sultan HB X sebut penghematan jadi alasan, tanpa kurangi nilai sakral.
UMKM berpeluang dapat diskon 50% biaya e-commerce. Simak syarat lengkap dari Menteri UMKM Maman Abdurrahman.