Total Kerugian Akibat Bencana Alam di Sleman Capai Rp1,1 miliar

25 Januari 2020 13:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Sepanjang tahun 2019, ada sebanyak 78 bencana alam yang terjadi di Kabupaten Sleman, dengan total kerugian Rp1,1 miliar.

Data di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, ada 22 kejadian tanah longsor dengan kerugian Rp2,6 miliar, enam bencana banjir dengan kerugian Rp553,5 juta dan 13 kejadian petir dengan kerugian Rp10,4 juta.

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun mengatakan tidak ada cara lain untuk menanggulangi risiko bencana selain melakukan mitigasi bencana, terutama bencana angin kencang. “Bencana tidak bisa dihindari. Namun jumlah korban dapat dikurangi bahkan dihindari," katanya, Jumat (23/1/2020).

Sementara itu, BPBD mengukuhkan SMPN 4 Gamping sebagai Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), Jumat (24/1/2020). Pengukuhan bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada siswa maupun guru terhadap upaya mitigasi terhadap bencana.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Joko Supriyanto mengatakan saat ini pihaknya telah membentuk sebanyak 69 SPAB di Kabupaten Sleman.

Ia menargetkan, pihaknya mampu membentuk empat SPAB di tahun 2020 ini. Adapun, mitigasi bencana yang disimulasikan dalam gladi resik mitigasi bencana di SMPN 4 Gamping ialah penanggulangan angin kencang.

“Diharapkan siswa dan guru dapat melakukan penaggulangan bencana dengan baik saat terjadi bencana," ujar Joko, Jumat (24/1/2020).

Joko Supriyanto sebelumnya mengatakan bahwa Kabupaten Sleman memiliki tujuh ancaman bencana seperti erupsi Gunung Merapi, banjir, angin kencang, tanah longsor, kekeringan, kebakaran dan gempa bumi.

Pembentukan SPAB, lanjut Joko, dimaksudkan untuk melindungi warga sekolah yang tinggal di kawasan rawan bencana. Selain itu, pembentukan SPAB juga untuk meningkatkan peran serta warga sekolah, khususnya kelompok rentan dalam pengelolaan sumber daya untuk mengurangi resiko bencana.

“BPBD Sleman berusaha mensinergikan berbagai elemen masyarakat agar terwujud masyarakat Sleman yang tanggap, tangkas dan tangguh dalam menghadapi bencana,” tutur Joko.

Sri Muslimatun berharap dengan pengukuhan ini para siswa dan guru dapat memahami literasi kebencanaan yang bisa saja terjadi sewaktu-waktu di sekolah tersebut.