Jumlah Posko Penanggulangan Kebakaran di Kota Jogja Belum Ideal

03 Februari 2020 11:37 WIB Newswire Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Dinas Kebakaran Kota Jogja mengusulkan penambahan dua posko penanggulangan kebakaran. hal ini dilakukan untuk memenuhi target waktu respons penanganan kebakaran guna meminimalkan korban dan kerugian akibat kebakaran.

"Saat ini baru ada dua posko penanggulangan kebakaran sehingga jumlahnya belum sesuai kondisi ideal. Seharusnya, posko ada di tiap sisi di Kota Jogja, yaitu di sisi utara, selatan, timur, dan barat,” kata Kepala Dinas Kebakaran Kota Jogja Nur Hidayat, Senin (3/2/2020).

Saat ini baru ada satu posko penanggulangan kebakaran di kompleks Balai Kota Jogja yang ada di bagian timur Jogja dan satu posko di Jalan Kyai Mojo di bagian barat Kota Jogja.

Nur mengatakan bahwa dinas akan mengusulkan penambahan dua posko penanggulangan kebakaran, satu di Pasar Seni dan Kerajinan Yogyakarta XT-Square untuk mendukung penanganan kebakaran di bagian timur dan satu di Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (Pasthy) untuk mendukung penanganan kebakaran di Jogja bagian selatan.

Keberadaan posko tersebut, Nur melanjutkan, diharapkan dapat mendukung pemenuhan target waktu respons penanganan kebakaran 15 menit dan jarak antar posko tidak lebih dari 7,5 kilometer.

“Kami masih dalam tahap usulan. Mudah-mudahan bisa diterima, karena mencari lokasi yang ideal juga tidak mudah,” kata Nur, berharap penambahan posko bisa direalisasikan tahun depan.

Menurut Nur, lokasi posko harus memenuhi sejumlah persyaratan, antara lain lahannya merupakan aset milik Pemerintah Kota Yogyakarta.

“Kami pun masih memetakan sejumlah lokasi lain yang dimungkinkan bisa dimanfaatkan sebagai lokasi alternatif untuk posko penanganan kebakaran dan jaraknya ideal,” katanya.

Selain menambah posko penanganan kebakaran, upaya penanggulangan kebakaran di wilayah permukiman juga dilakukan dengan membangun hidran berbasis kampung.

Tahun ini, Dinas Kebakaran Kota Yogyakarta mengalokasikan dana Rp2,9 miliar untuk pembangunan hidran berbasis kampung di lima kampung yakni Notoprajan, Ngampilan, Purwodiningratan, Ngadiwinatan, dan Pajeksan.

Sumber : Antara