Baru Sebulan, Sudah 50 Warga Bantul Jadi Korban Demam Berdarah

Ilustrasi nyamuk DBD - JIBI
03 Februari 2020 18:17 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL-Dinas Kesehatan Bantul mencatat selama selama Januari 2020 demam berdarah sudah mencapai 50 kasus. Penyakit yang disebabkan nyamuk aedes aegypti tersebut tersebar di semua kecamatan di Bantul, kecuali Kecamatan Dlingo.

Data demam berdarah tersebut tercatat di puskesmas dan rumah dakit, "Tidak ada korban jiwa dan kami berharap jangan sampai ada korban jiwa," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Bantul, Tri Wahyu Joko Sntoso, saat dihubungi Senin (3/2/2020).

Tri Wahyu mengatakan jika dibanding periode yang sama tahun lalu, angka demam berdarah Januari tahun ini lebih sedikit. Januari 2019 angka demam berdarah mencapai sekitar 80 kasus. Menurut dia, angka demam berdarah tidak bisa dibandingkan dari tahun ke tahun atau dari bulan ke bulan. Sebab, demam berdarah dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan lingkungan.

Pencegahan demam berdarah paling efektif, kata dia, tetap melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan membiasakan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Jika ada tanda-tanda demam agar segera dibawa ke puskesmas atau ke fasilitas kesehatan terdekat.

Pria yang akrab disapa dokter Oky itu mengatakan tanda awal demam antara 2-7 hari. Selain itu tanda lainnya adalah bintik-bintik di kulit, mimisan dan pendarahan pada gusi. Namun ada juga yang ditandai dengan pegal linu dan muntah-muntah. "Untuk memastikannya harus diobservasi, maka harus segera diperiksa," ujar Oky.

Tidak hanya melalui PSN, namun pemantauan kasus DBD juga melalui pemantauan angka jentik nyamuk di tiap wilayah, penyuluhan melalui puskesmas, menyiaplan alat tes demam brrdarah di tiap puslesmas. Masyarakat juga bisa mengakses abate secara gratis di puskesmas. Abate bisa dicampurkan ke penampungan air atau sumur agar tidak menjadi sarany nyamuk.
.