Banyak Sayuran di Lorong Jalan, Bausasran Didorong Menjadi Ekowisata

Wakil Walikota Jogja, Heroe Poerwadi saat menutup KKN UKDW di Bausasran, Sabtu (15/2/2020). - Ist/ Dok Humas Pemkot
18 Februari 2020 04:17 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Dengan 13 Kelompok Tani dan warga yang gemar menanam, Kelurahan Bausasaran, Danurejan, kian hijau dihiasi lorong sayur yang hampir bisa ditemui di setiap gang. Dengan modal ini, Bausasran didorong sebagai kampung ekowisata yang nantinya bisa memberikan dampak ekonomis bagi warganya.

Dibantu kelompok KKN dari UKDW, warga Bausasran menjalankan sejumlah program untuk mendorong konsep ekowisata, di antaranya pelatihan pembuatan pupuk organik, katalog gemah ripah, lorong sayur, kolam terapi ikan, pelatihan marketing.

Ketua salah satu Kelompok Tani, Bustan Adi Sumartina, mengatakan warga Bausasaran mempunyai antusias yang sangat besar untuk mendorong kampung sayur di Bausasaran. Selain menanam sejumlah pelatihan juga terus digalakkan. “Dengan adanya KKN ini konsep Ekowisata Bausasaran juga akan semakin dimatangkan,” ujarnya, Sabtu (15/2/2020).

Selain bercocok tanam, Bausasran juga memiliki kelompok bank sampah yang terus didorong untuk mendukung kegiatan kampung sayur. Kelompok bank sampah saat ini tengah mengadakan sejumlah inovasi, seperti pelatihan membat sabun dari limbah minyak yang diikuti oleh seluruh anggota dari 12 kelompok bank sampah.

Konsep ekowisata Bausasran mendapat sambuatan positif dari Wakil Walikota Jogja, Heroe Poerwadi. Menurutnya, dengan lahan yang terbatas bukan berarti menghambat proses pertanian di perkotaan.

“Sekarang menanam aneka sayur tidak lagi harus dilakukan di lahan yang luas. Ada banyak media tanam yang bisa digunakan dan hasilnya pun maksimal. Menanam sayur bisa dilakukan di lorong-lorong jalan seperti ini,” ujar Heroe.

Dia menambahkan seluruh jenis tanaman sayur yang kerap dikonsumsi sehari-hari seperti cabai, selada, tomat, sawi, kangkung, bayam, seledri hingga terung bisa dibudidayakan di kampung sayur.

“Yang perlu diupayakan adalah keberlanjutan dari budi daya sayur di pekarangan. Harapannya, kegiatan seperti ini bisa diperluas lagi sehingga masyarakat benar-benar memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri,” ujarnya.

Pihaknya menyebut konsep gandeng gandong seperti yang tengah dilakukan Bausasaran dengan Fakultas Bioteknologi dan Bisnis UKDW ini harus terus dikembangkan di seluruh wilayah Kota Jogja. “Inilah yang harus kita dorong, agar semua bisa maju bersama, salah satunya dengan KKN,’ ucapnya.

Sebelumnya, Plt Lurah Bausasran, Diah Kristiani, menuturkan program Kampung Sayur Bausasran dimulai dengan pelatihan menanam pada Juni 2019 lalu, yang kemudian disusul dengan perlombaan Kampung Sayur dengan peserta per RT.

"Dari perlombaan itu yang menang dapat peralatan menanam dan media tanam, dari situ warga mulai semangat untuk menanam sayur di lingkungannya. Dengan swadaya warga sangat antusias," ujarnya.