Ini Penjelasan Pemda DIY soal Sindiran ala Film Parasite untuk Wisatawan Malioboro

Kawsan Titik Nol Kilometer dipenuhi wisatawan beberapa waktu lalu - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
20 Februari 2020 21:37 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Kabag Humas Pemda DIY, Ditya Nanaryo Aji, menuturkan postingan parahsih soal sindiran terhadap ulah wisatawan di Malioboro dibuat karena Humas Pemda DIY memiliki kewajiban untuk mengimbau masyarakat dan pengunjung Malioboro untuk bersama-sama menjaga kebersihan dan kenyamanan kawasan tersebut.

Ia melihat di hari biasa, sebenarnya perilaku pengunjung masih wajar, tetapi saat sedang ramai semisal saat akhir pekan, liburan atau ada event, banyak pengunjung yang tidak tertib. "Sebagai imbauan saja agar turut menjaga," ujarnya.

Dalam postingan parahsih kata dia, setidaknya mengandung tiga fokus imbauan, yakni pada pengunjung yang membuang sampah sembarangan, merusak atau mencuri guiding block dan kursi yang digunakan untuk pijakan kaki.

"Yang paling sering soal kebersihan, sudah banyak disediain tempat sampah tapi masih

sering buang sembarangan. Lalu untuk guiding blcok sebenarnya tidak cuma Malioboro yang hilang, tapi di Jalan Suroto juga," ungkapnya.

Pada kondisi ramai khususnya saat ada event di Malioboro, banyak pengunjung yang menggunakan kursi di pedestrian Malioboro untuk memanjat dan mengambil foto. Ia menyayangkan hal ini karena berpotensi merusak kursi.

Sebelumnya Humas Pemda DIY menyindir dan sekaligus memberi peringatan bagi para pengunjung yang masih kurang sadar soal menjaga kawasan Malioboro.

Lewat unggahan di akun Twitter resminya, Humas Pemda DIY membuat peringatan dengan memparodikan film asal Korea Selatan yang baru saja menggemparkan jagad Hollywood yakni Parasite.

Mencontek pose di poster film tersebut, Humas Pemda DIY mengingatkan para pengunjung Malioboro agar jangan membuang sampah sembarangan hingga mempergunakan fasilitas di kawasan itu dengan semestinya.

"Memang asyik ngejar konten tapi ga segitunya juga tempat duduk jadi alas kaki biar tambah tinggi. Jogja udah tambah cantik sayang warganya ada yang nyentrik. Jogja milik bersama. Bisanya hanya menikmati, tidak ikut menjaga? PARAHSIH," tulisnya.