BEM UMY Masih Kecewa dengan Ganjar dan Anies

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. - Antara Foto/Hafidz Mubarak A
20 Februari 2020 10:07 WIB Newswire Bantul Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (BEM UMY) kecewa kepada Gubernur Jawa Tengah (Gateng) Ganjar Pranowo dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Hal tersebut dikarenakan rapor merah yang diberikan BEM UMY bersama BEM SI DIY di UMY dalam aksi unjuk rasa, Selasa (18/02/2020), tidak mendapatkan tanggapan serius dari keduanya.

Meski Ganjar menerima mahasiswa untuk berdialog saat menjadi narasumber dalam Government Gathering on Good and Green Governance di UMY, Selasa sore, Ganjar tidak memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk beraudensi.

"Untuk aksi rapor merah kemarin, itu sebagai bentuk peringatan kita yang isinya adalah kajian permasalahan ekologi yang ditujukan ke Pak Ganjar dan Pak Anies. Namun, berhubung Pak Anies tidak datang, jadi kajian hanya diberikan kepada Pak Ganjar. Karena sesi dialog terbatas, di mana kita hanya mendapat satu kali kesempatan berbicara, dan ternyata tidak ada kesempatan untuk audiensi, maka kita memutuskan untuk menyerahkan langsung rapor merah tersebut ke beliau di sela acara," ungkap Presiden BEM UMY Muhammad Iqbal Khatami saat dihubungi SuaraJogja.id, Rabu (19/2/2020).

Menurut mahasiswa semester VIII Fakultas Ilmu Sosial dan Politik itu, Ganjar merasa kaget dengan rapor merah yang diterimanya dari mahasiswa. Kekagetan tersebut sebenarnya juga diharapkan mahasiswa saat melihat kondisi nyata warga yang terdampak dan dirugikan akibat kebijakan pembangunan yang merusak ekologi di Jateng seperti di Kendeng, Urutsewu, Bendungan Bener Purworejo, dan lainnya.

Namun ,mahasiswa menyayangkan, Ganjar tidak mau membuka dan membaca rapor merah yang diberikan mahasiswa. Dia, kata Iqbal, justru mengeluarkan statement yang menurut mahasiswa tidak patut dikeluarkan oleh seorang pelayan publik. "Begitu pula ketika kami mengajukan follow up dari kajian yang kami berikan, beliau menolak secara halus," ungkapnya.

Sementara Anies, lanjut Iqbal, justru tidak datang dalam acara tersebut. Anies hanya melakukan teleconference tanpa menanggapi rapor merah yang diberikan padanya. Karena itu, mahasiswa akan terus melanjutkan aksi mereka. Namun, mereka belum membicarakan lebih lanjut aksi apa yang akan dilakukan.

"Tapi kita pastikan akan terus ada gerakan-gerakan untuk mengawal isu permasalahan ekologi yang kami bawa. Selain aksi offline, kita juga melakukan aksi online melalui penyebaran kajian, kuisioner, dan meme. Harapannya, ini bisa menjadi pencerahan kepada masyarakat agar mengetahui permasalahan yang ada di DKI dan Jateng," tandasnya.

Mahasiswa berharap, baik Ganjar maupun Anies bisa melakukan evaluasi dan peninjauan kembali kepada seluruh proyek pembangunan yang bermasalah di Jawa Tengah maupun DKI Jakarta. Selain itu, ada pemenuhan hak-hak masyarakat terdampak yang dirampas secara adil. "Jangan sampai pembangunan hanya memihak kepada pemilik modal," imbuhnya.

Diberitakan sebelumnya, sikap Ganjar dan Anies dibanding-bandingkan setelah bersamaan didemo mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa (18/2/2020). Aksi unjuk rasa terjadi pada hari keduanya dijadwalkan hadir sebagai narasumber acara Government Gathering on Good and Green Governance di Sportorium UMY, Selasa sore.

Menjelang diskusi bertema lingkungan tersebut, puluhan mahasiswa UMY telah bersiap mendemo Ganjar terkait pencemaran PT RUM dan pembangunan Bendungan Bener, juga Anies terkait reklamasi dan banjir di Jakarta serta penebangan pohon-pohon di Monas.

Di halaman gedung, Ganjar disambut sejumlah mahasiswa dengan spanduk yang mewakili penolakan mereka terhadap Ganjar dan Anies. Lalu, Ganjar mengajak mereka masuk gedung dan menanggapi protes mereka. Sementara, Anies tidak hadir ke lokasi dan memilih untuk melakukan sesi diskusi melalui teleconference dari kantornya di Jakarta.

Sumber : Suara.com