Cuaca Masih Ekstrem, SMPN 1 Sewon Nekat Gelar Hiking di Gua Selarong Pekan Depan

Anggota TNI AL melakukan penyelaman untuk mencari korban hanyut dalam kegiatan susur sungai di aliran Sungai Sempor, Mantaran, Trimulyo, Sleman, Sabtu (22/02/2020). - Harian Jogja/Desi Suryanto
24 Februari 2020 18:07 WIB Hery Setiawan Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Tak ingin insiden yang menimpa siswa SMPN 1 Turi, Sleman terulang kembali, kini untuk sementara sekolah di Bantul dilarang menggelar acara susur sungai dan kegiatan alam bebas yang ekstrem lainnya. Adapun untuk kegiatan outdoor Pramuka seperti kemah, outbond, dan kunjungan luar kelas, masih diperbolehkan dengan catatan harus mengajukan izin ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bantul.

Salah satu sekolah di Bantul yang harus menaati aturan itu adalah SMPN 1 Sewon. Sekolah itu sudah menjadwalkan akan menggelar kegiatan hiking di Gua Selarong pekan depan. “Memang ada beberapa orang tua sempat waswas dan bertanya ini itu soal kegiatan hiking di Selarong. Tetapi itu wajar, kecelakaan yang terjadi Sungai Sempor, Sleman, membuat orang tua siswa pasti cemas,” ucap Kepala SMPN 1 Sewon saat ditemui di kantornya, Senin (24/2/2020).

Kendati begitu, dia berdalih kegiatan kepanduan di luar sekolah tetap wajib diikuti siswa. Di Gua Selarong, katanya, para siswa akan mengikuti kegiatan penanam pohon dan penyusuran petilasan Pangeran Diponegoro. "Meski ada peristiwa di Turi [Sungai Sempor] itu, kegiatan outdoor tetap akan kami laksanakan," imbuh dia.

Hariono menjelaskan kegiatan hiking dan napak tilas itu diikuti oleh 224 siswa. Oleh sebab itu, Hariono dan para guru dituntut untuk ekstra hati-hati. Pemilihan jenis kegiatan yang tepat perlu mendapat perhatian. Koordinasi dengan pihak terkait juga tak kalah vital. "Kami sedang menghubungi Polsek Pajangan, Koramil Pajangan, dan Kecamatan Pajangan untuk membantu mengamankan kegiatan," ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bantul, Isdarmoko mengaku telah mengirim imbauan kepada sekolah. Isinya adalah soal kegiatan luar sekolah yang sebenarnya tetap boleh dilaksanakan, kecuali susur sungai atau kegiatan air lainnya.

“Jika ada kegiatan luar sekolah, perihal keamanan perlu mendapat perhatian ekstra. Kepala sekolah bertanggung jawab penuh atas semua kegiatan yang hendak dilakukan di sekolahnya," kata Isdarmoko.