Syok Tragedi Susur Sungai Sempor, 6 Siswa SMPN 1 Turi Alami Gejala Gangguan Psikologis

Seorang siswa membutuhkan bantuan medis saat mengikuti kegiatan trauma healing di SMP Negeri 1 Turi, Sleman, Senin (24/02/2020). - Harian Jogja/Desi Suryanto
24 Februari 2020 17:37 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan oleh Ikatan Psikologi Klinis DIY, sebanyak enam siswa SMPN 1 Turi Sleman mengalami gejala gangguan psikologis pascainsiden tragis hanyutnya sejumlah peserta susur Sungai Sempor di Donokerto, Turi, Sleman, DIY, Jumat (21/2/2020) lalu yang menewaskan 10 orang.

Enam siswa yang dinyatakan mengalami gangguan psikologis akan dilakukan pendampingan secara intensif.

Ketua Ikatan Psikologi Klinis DIY, Siti Urbayatun mengatakan jika kejadian hanyutnya sejumlah siswa SMPN 1 Turi Sleman merupakan kejadian luar biasa sehingga harus ada kerja sama dengan berbagai pihak untuk menciptakan suasana kondusif.

Mengenai keenam siswa yang dinyatakan mengalami gejala gangguan psikologis pascatragedi siswa hanyut ditemukan seusai ia dan jawatannya melakukan pemeriksaan psikologis terhadap para siswa peserta susur sungai.

"Kami kerja sama dengan berbagai elemen yang terkait, pemerintah maupun universitas di Yogyakarta yang mempunyai Fakultas Psikologi. Kami minta bantuan penanganan psikologis kepada siswa, keluarga dan warga terdampak kejadian Jumat (21/2/2020) kemarin," ujar Siti, Senin (24/2/2020).

Siti menambahkan, berdasarkan hasil assesment sementara ada enam siswa yang mengalami gejala (gangguan psikis). Namun, hal tersebut masih sebatas symptom atau gejala. Symptom tersebut jika dibiarkan akan menjadi gangguan psikologis. Jika gangguan tidak segera ditangani, gangguan kecil akan mengarah ke gangguan berat.

"Para siswa mengalami gejala yang kalau diabaikan bisa berujung ke post-traumatic stress disorder (PTSD) atau gangguan stress pascatrauma.

Namun, ini sifatnya masih gejala. Gejala itu ditunjukan dalam berbagai bentuk. Seperti secara psikis, di mana seseorang merasa cemas, sedih, marah, atau menunjukkan emosi lainnya. Kalau yang sifatnya fisik, seseorang akan merasa mual. Lalu perilakunya bisa tiba-tiba teriak dan histeris," jelasnya.

Penanganan bagi siswa juga sudah dilakukan sejak Jumat (21/2/2020) lalu. Ia dan jawatannya membawa para siswa ke posko psikologi di SMPN 1 Turi atau melakukan kunjungan ke sekolah dan rumah. Upaya tersebut juga dilakukan terhadap seluruh peserta susur kali. Tidak hanya kepada enam orang yang dinilai mengalami gejala gangguan psikologis.

"Siswa telah mendapat penanganan dari tim psikolog yang tergabung dalam Ikatan Psikologi Klinis maupun dari Dinas Kesehatan setempat, para mahasiswa, anggota organisasi masyarakat yang telah mendapat pembekalan dari ahli, jadi (siswa) akan kita pantau terus," tegasnya.

Lebih lanjut, gejala gangguan psikologis juga akan menular ke siswa lainnya dari satu orang yang memang terganggu secara kejiwaannya imbas dari sebuah peristiwa. "Kadang-kadang menular ya, jadi melihat temannya menangis mereka ikut menangis, sebenarnya maunya empati saja nangisnya, bukan berarti terpapar juga ya. Jadi ini akan kita pantau terus, apakah ini kondisi yang wajar atau perlu pendampingan secara intens," terangnya.

Sementara itu, menurut Ketua Pelaksana Posko Psikologi Kejadian Siswa SMPN 1 Turi, Oneng Nawaningrum, lima dari enam siswi yang disinyalir mengalami gejala gangguan psikis, sudah diperbolehkan pulang dari posko. "Tinggal satu saja dari enam pertama yang kami pantau," imbuhnya.