Digital Marketing Akan Dibentuk di Setiap Desa

Kegiatan diskusi dan penandatanganan kerja sama terkait digital marketing, Senin (24/2/2020). - Harian Jogja/Sunartono.
25 Februari 2020 08:07 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Banyaknya potensi desa bernilai ekonomi tinggi yang belum terkelola dengan baik menjadi sasaran sejumlah platform digital. Para pemuda desa diajak untuk ikut bekerja secara online tanpa harus meninggalkan kampung mereka. Adalah Paruh Waktu yang memiliki platform digital serta Syncore Indonesia yang konsentrasi menggarap pemberdayaan masyarakat berbasis digital ini.

Chief Marketing Officer Paruh Waktu Kristianto menjelaskan saat ini banyak usaha yang kesulitan mencari agen kadang harus membayar bulanan, bonus hingga insentif dan berbagai sarana pendukung kerja. Tetapi dengan layanan digital yang ia miliki kendala tersebut bisa terselesaikan.

Karena banyak tenaga kerja bisa bergabung secara online dengan memanfaatkan waktu luang mereka. Pemuda desa menjadi salah satu yang disasar, untuk bisa memanfaatkan gadget mereka tetapi bisa mendapatkan penghasilan tanpa harus meninggalkan kampung. "Melalui platform ini, yang bergabung bisa nyaman kerja tidak harus di rumah, tetapi bisa di mana saja, di kos kafe, tidak terbatas hanya di kantor," katanya, Senin (24/2/2020).

Ia mengatakan dengan menyasar banyak kalangan pihaknya terutama milenial menggandeng Syncore Indonesia. Kerja sama itu telah disepakati pada Senin (24/2/2020) di Nogotirto, Banyuraden, Gamping, Sleman. Program itu sekaligus untuk mewujudkan masyarakat digital Indonesia.

"Kerja sama ini juga bertujuan melatih anak muda, supaya tidak meninggalkan desa untuk bekerja ke kota tetapi cukup dengan memanfaatkan gadget. Bagi ibu rumah tangga bisa bekerja sambil mengurus keluarga dan termasuk penyandang disabilitas juga bisa ikut berkarya," ujarnya.

Managing Partner Syncore Consulting Rudi Suryanto menambahkan kerja sama itu diarahkan membangun 30.000 agen digital marketing di seluruh Indonesia utamanya untuk membantu UMKM dan produk pedesaan agar bisa dipasarkan. Karena persoalan yang dihadapi warga desa sebagian besar karena kesulitan dukungan digitak seperti membuat foto dan catatannya untuk promosi. Dengan adanya digital marketing di setiap desa diharapkan bisa memperkecil kesenjangan kemampuan promosi potensi pedesaan.

"Kami berkomitmen untuk melatih pemuda desa supaya mereka tidak perlu meninggalkan desa untuk bekerja di kota, serta ibu rumah tangga dan juga difabel untuk mereka bisa terus berkarya," katanya.

Saat ini masih ada masalah serius soal logistik, yaitu belum saling terintegrasi sehingga produk desa menjadi mahal dan daya saingnya rendah. Oleh karena itu melalui digital marketing di pedesaan akan membuat potensi desa bisa bersaing di level internasional.

"Sekarang banyak Bumdes tetapi tidak banyak yang bisa bertahan, padahal tidak ada desa yang tidak punya potensi. Setelah kami keliling desa salah satu penyebabnya ada asimetri informasi, itu tidak tersambung antara potensi desa dengan pasar. Ini bisa dipecahkan melalui digital marketing," ujarnya.