Alat Deteksi Gempa Segera Dipasang di Panggang Gunungkidul

Ilustrasi. - Antara Foto
01 Maret 2020 21:17 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Alat pendeteksi gempa di Gunungkidul bakal ditambah. Rencananya bantuan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) ini akan dipasang di wilayah Kecamatan Panggang.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki, mengatakan saat ini alat pendeteksi gempa sudah terpasang di sejumlah wilayah. Selain terpasang di area Kantor BPBD, alat juga dipasang di kawasan Hutan Wanagama, di wilayah Kecamatan Gedangsari dan di Balai Desa Sidoharjo, Kecamatan Tepus.

Menurut dia, alat yang terpasang merupakan bantuan dari BMKG serta bantuan dari Jepang melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Rencananya, lokasi pemasangan ditambah dan titiknya berada di kawasan Polsek Panggang. “Kalau jadi dipasang maka ada lima alat pendeteksi gempa di seluruh wilayah Gunungkidul,” katanya kepada wartawan, akhir pekan kemarin.

Menurut dia, alat ini berfungsi mengetahui titik dan kekuatan aktivitas kegempaan. Edy mencontohkan alat yang terpasang di Kantor BPBD terdiri dari dua komponen. Satu unit dipasang di halaman BPBD yang tersambung dengan satu unit alat yang terdiri dari perangkat elektronik lengkap dengan monitor kecil terpasang di ruangan kerja kepala pelaksana BPBD.

“Alat ini semua saling terkoneksi dan datanya langsung terekam oleh BMKG, tapi kami juga bisa melihat berapa kekuatan gempa yang terjadi lewat monitor yang terpasang,” katanya.

Untuk antisipasi kebecanaan, BPBD Gunungkidul terus menyosialisasikan antisipasi bencana melalui program mitigasi, salah satunya dengan memperluas jaringan desa tangguh bencana. “Upaya mitigasi ini sangat penting agar dampak bencana bisa ditekan sekecil mungkin,” katanya.

Disinggung mengenai keberadaan early warning system (EWS) atau alat deteksi dini bencana baik longsor dan tsunami, Edy tidak menampik banyak alat yang rusak. Ia mencontohkan untuk EWS longsor terdapat di 30 titik, namun dari jumlah tersebut hanya tiga yang berfungsi. Hal yang sama juga terjadi pada EWS tsunami. Dari delapan alat yang terpasang di kawasan pantai, hanya satu yang masih bisa berfungsi. “Alat di Pantai Baron yang masih bisa berbunyi sirinenya. Kami sebenarnya sudah meminta pengganti ke BNPB, tapi belum ada tindak lanjut hingga sekarang,” katanya.

Anggota DPRD Gunungkidul, Supriyadi, berharap agar alat pencatat gempa ini dirawat sehingga dapat berfungsi secara normal. Menurut dia, peralatan seperti ini sangat membantu dalam upaya mitigasi bencana di Bumi Handayani. “Harus dijaga dan jangan sampai rusak,” katanya.