Batal Datangkan Gus Muwafiq, Masjid Gedhe Kauman Tetap Gelar Pengajian Bernuansa NU

Jemaah khusyuk mengikuti Pengajian Malam Jumat Legi, di selasar Masjid Gedhe Kauman, Kamis (5/3/2020) malam. - Harian Jogja/Lugas Subarkah
06 Maret 2020 10:07 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Pemindahan Pengajian Akbar Harlah NU ke-49 bersama Gus Muwafiq yang semula akan digelar di Masjid Gedhe Kauman menjadi di Universitas NU, tidak meniadakan sama sekali pengajian di Masjid Gedhe kauman pada Kamis (5/3/2020) malam.

Kegiatan di Masjid Gedhe Kauman malam itu dimulai sejak ba’da magrib, dengan Tadarus Safari Akbar, yang berlokasi di serambi masjid. Memasuki isya, tadarus berhenti dan bersiap ke kegiatan berikutnya, yakni Pengajian Malam Jumat Legi yang merupakan kegiatan rutin Lapan Kawedanan Pengulon Kraton ngayogyakarta Hadiningrat.

Ratusan jemaah yang didominasi remaja dengan baju koko putih, sarung dan peci putih memadati selasar masjid. Pengajian dimulai dengan pembacaan maulid oleh Ustadz Haji Luthfi Haris Mahfudz dan tim hadroh MT Darul Hasyimi Jogja.

Setelah pembacaan maulid, pengajian dilanjutkan dengan tausiyah yang diisi oleh K. H. Ahmad Munir. Dalam tausiyahnya, ia menyampaikan beberapa hal, salah satunya soal fungsi masjid sebagai pengurai masalah. “Di sini diudari masalah, diberikan solusi terbaik oleh Allah,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan tentang usaha kita sebagai manusia untuk menjadi makhluk terbaik. Dalam usaha itu, syarat utamanya adalah menyatukan iman dan amal soleh, melalui penggabungan zikir dan ilmu. “Kalau Allah sudah meridhai, kita akan dibuat senang melakukannya,” kata dia.

Tausiyah berlangsung sekitar 20 menit. Pada pukul 23.10 WIB pengajian berakhir. Jemaah membubarkan diri dengan tertib. Tidak terlihat ada gesekan antara jemaah atau penyelenggara pengajian dengan warga sekitar.

Melalui akun resminya di Instagram, pengurus Masjid Gedhe Kauman mengatakan terjadinya penolakan Harlah NU beberapa waktu dikarenakan tidak adanya komunikasi antara penyelenggara dengan takmir masjid, melainkan hanya pada pihak Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Sementara di Masjid Gedhe Kauman hampir setiap hari selalu ada kegiatan, sehingga ketika ada kegiatan dari luar yang tiba-tiba menyebar pamphlet di media sosial tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada pengurus masjid, jadwal yang sudah tersusun akan berantakan.