Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Jogja Beri Sambutan di Harlah NU

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Jogja Achid Widi Rachmanto (berdiri) memberikan sambutan dalam acara Hari Lahir (Harlah) ke-94 NU di Universitas Nahdlatul Ulama, Kamis (5/3) malam. - Harian Jogja/Sunartono.
06 Maret 2020 10:17 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Jogja Achid Widi Rachmanto memberikan sambutan dalam acara Hari Lahir (Harlah) ke-94 NU di Universitas Nahdlatul Ulama, Jalan Lowanu, Kota Jogja, Kamis (5/3/2020) malam.

Acara Harlah ke-94 NU dihadiri puluhan ribu warga nahdliyin dan sejumlah kyai NU. Kegiatan ini sebelumnya direncanakan di Masjid Gedhe Kauman, namun karena ada yang mempersoalkan kemudian dipindah di Universitas NU Yogyakarta.

Dalam kesempatan itu, Achid diberikan waktu sambutan setelah Ketua PCNU Kota Jogja HM. Yazid Affandi. Kedua pimpinan ormas di level Kota Jogja ini sama-sama melakukan sambutan dengan berdiri di panggung. Achid Widi Rachmanto menyampaikan banyak terima kasih karena telah diberikan kesempatan untuk memberikan sambutan di acara Harlah NU tersebut.

"PDM kota Jogja mengucapkan terima kasih sudah diundang untuk bersama-sama memperingati Harlah NU 94. Ini merupakan suatu kehormatan PDM, selama ini PDM baru kali ini diundang. Selanjutnya, jika kemarin ada bab kurang enak, saya yakin ini tidak ada niat, kami ingin ini jadi pelajaran, Insyaallah kita bersaudara, NU dan Muhammadiyah," ungkapnya dalam sambutan dengan Bahasa Jawa.

Ia berharap warga NU dan Muhammadiyah ke depan untuk terus bersatu mendukung program pemerintah untuk kejayaan bangsa ke depan. "Atas nama PDM kalau ada yang salah, kami memberikan maaf, kita jalin persaudaraan lebih erat antara NU dan Muhammadiyah," katanya.

Ketua PCNU Yogyakarta HM. Yazid Affandi mengatakan kegiatan pengajian itu diserta dengan ingkungan atau selamatan dengan menu ingkung ayam. Tujuannya bernuansa persaudaraan karena satu nampan dimakan secara bersama. Ia berharap semua elemen bisa bersatu rukun, damai, ingkungan bersama adalah simbol perdamaian sebagai setting awal acara tersebut.

"Kalau bergeser awalnya di Masjid Gedhe [kemudian pindah ke NU], itu sesuatu biasa, biasa saja. Karena target kita kebersamaan dan persaudaraan," ujarnya.