Siswa Masemba Olah Limbah Jadi Kerajinan Layak Jual

Salah satu kelompok siswa SD menyelesaikan karyanya dalam lomba pengolahan limbah plastik di MTs N 9 Bantul, di Banguntapan, Bantul, Sabtu (7/3/2020). - Harian Jogja/Sunartono.
08 Maret 2020 08:57 WIB Sunartono Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri 9 Bantul atau dikenal dengan Masemba yang berada di Banguntapan, Bantul mulai memanfaatkan limbah untuk diubah menjadi kerajinan bernilai ekonomi. Gerakan ini sebagai salah satu program berbasis lingkungan untuk menuju sekolah adiwiyata.

Hasil pengolahan limbah dari para siswa menjadi berbagai barang kerajinan itu dipamerkan dalam Peringatan Hari Amal Bakti ke-11 MTs N 9 Bantul, Sabtu (7/3/2020). Kompetisi pengolahan limbah plastik yang melibatkan pelajar Sekolah Dasar (SD) juga dihelat dalam kesempatan itu untuk melengkapi sejumlah lomba seperti tahfidz, menulis puisi, fashion show, azan dan meluki kaligrafi.

Kepala MTs Negeri 9 Bantul Nur Hasanah Rahmawati menjelaskan kegiatan itu diikuti 300 siswa SD di wilayah DIY untuk semua lomba. Pihaknya sengaja menyajikan lomba pengolahan limbah plastik sebagai komitmen sekolah dalam mewujudkan program sekolah adiwiyata. Saat ini baru dimulai tingkat madrasah dan targetnya tahun berikutnya bisa maju ke tingkat kabupaten sebagai sekolah adiwiyata.

"Kami juga memulai sembilan program, seperti giat prestasi baik akademik, non akademik semua hal seperti ekstrakurikuler, seni, tahfidz, kami sudah ada tim prestasi akademik dan non akademik. Termasuk target kami lomba adiwiyata di kabupaten," katanya di sela-sela kegiatan tersebut.

Ia menjelaskan alasan membuat kompetisi pengolahan limbah plastik karena salah satu program adiwiyata sekolahnya adalah recycle. Selama ini telah diterapkan kepada siswanya dengan mengambil dengan mengolah plastik berserakan di sekitar sekolah untuk diolah menjadi kerajinan menarik dan layak jual seperti bunga yang cantik menarik. Kemudian memanfaatkan kain handuk bekas dicampur semen didesain sedemikian rupa menjadi tempat bunga. Sejumlah hasil karya siswa dari pengolahan limbah menjadi kerajinan juga dijual dalam kegiatan tersebut.

"Karya siswa, sudah layak jual, dan kami pamerkan. Termasuk souvenir diberikan kepada tamu yang kami undang juga hasil olahan limbah kain bekas yang dibuat oleh 370 siswa kami," ujarnya.

Pada kompetisi pengolahan limbah plastik juga diikuti dari berbagai SD di wilayah DIY. Mereka membawa limbah sendiri kemudian membuatnya di dalam ruangan yang sudah ditentukan. Beberapa benda yang berhasil diproduksi antara lain tempat menata bunga, tisu dan lain-lain. Bahan yang digunakan lebih didominasi sampah plastik dari botol. Peserta setiap kelompok berjumlah tiga anak diberikan waktu dua jam untuk menyelesaikan hasil kerajiannya.

"Dengan memanfaatkan kembali limbah membantu pengurangan volume sampah dan hasil karyanya bisa bernilai ekonomi. Paling utama memberikan kesadaran pada siswa agar mereka tetap menjaga lingkungan," ujarnya Zulisti Sudarojah salah satu guru yang menjaga ruangan lomba.