Mengukir Asa dari Hutan Bambu Wanagama Bersama Taspen

Launching Program Pelestarian Hutan Bambu Wanagama pada hari Rabu (4/3/2020). - Ist/Dok Panitia
09 Maret 2020 13:07 WIB Media Digital Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Senyum sumringah menghiasi wajah Hari Susanto (49 tahun) yang ikut dalam acara launching Program Pelestarian Hutan Bambu Wanagama pada hari Rabu (4/3/2020), di kawasan hutan tujuan khusus Wanagama yang berada tidak jauh dari desa Banaran, tempat tinggalnya.

Bersama warga desa Banaran lainnya, pria yang juga merupakan tokoh masyarakat di desanya itu turut serta melakukan penanaman bibit pohon bambu di area hutan bambu Wanagama yang nantinya akan menjadi pusat ekonomi kreatif berbasiskan produk bambu.

Ia berharap agar kegiatan pembangunan hutan bambu Wanagama yang disokong penuh oleh PT Taspen (Persero) melalui dana program CSR-nya bisa berhasil. “Saya setuju dengan kegiatan seperti ini. Kalau hutan bambunya berhasil, masyarakat nanti dapat diberi pelatihan untuk membuat kerajinan bambu sehingga mereka bisa menambah penghasilan juga," harap Hari.

Selain itu, dengan adanya dukungan yang kuat dari UGM dan Taspen, Hari optimis kalau hutan bambu Wanagama ke depannya bisa jadi pusat kerajinan bambu di Indonesia. Dia juga menambahkan kalau ditanam dipinggir sungai, bambu dapat mencegah erosi pinggir sungai.

"Hal ini terbukti waktu banjir besar tahun 2018 itu, bambulah yang paling kuat menahan hempasan banjir sungai Oyo, sehingga Wanagama relatif aman dari ancaman banjir," jelas Hari.

Kegiatan Pelestarian Hutan Bambu Wanagama awal mulanya digagas oleh Fakultas Kehutanan UGM selaku pengelola kawasan hutan Wanagama sebagai bentuk kepedulian UGM terhadap tanaman bambu yang merupakan salah satu jenis tanaman yang multifungsi dan banyak manfaatnya namun sudah mulai ditinggalkan masyarakat karena dianggap inferior dan mudah terserang hama dan penyakit. Dengan adanya kegiatan ini, Pendidikan Kehutanan UGM akan berupaya untuk mengembangkan teknologi yang mampu meningkatkan nilai ekonomi bambu.

Mengingat program yang bertujuan untuk melestarikan lingkungan ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit, Taspen pun tergerak untuk menggelontorkan dana CSR sebesar Rp.290.500.000 untuk memberikan bantuan berupa bibit tanamam bambu petung total sebanyak 2.300 bibit yang akan ditanam secara bertahap mulai bulan Desember 2019 hingga Februari 2020.

Senior Manajer PKBL Taspen, Kuspriyani menjelaskan bahwa kegiatan Pelestarian Hutan Bambu Wanagama yang berada di lokasi petak 7, 13 dan 16 ini adalah salah satu program CSR unggulan Taspen bersama Wanagama yang akan mereka kembangkan menjadi pusat industri kreatif berbasiskan produk bambu unggulan seperti yang diharapkan masyarakat di sekitarnya.

"Dengan adanya program ini, Taspen ingin mengajak warga Gunungkidul maju secara ekonomi melalui hasil hutan bambu ini," katanya.

Bahkan ia pun mengatakan bahwa dalam waktu 3 tahun ke depan yaitu setelah panen, warga masyarakat tersebut akan dijadikan sebagai mitra binaan Taspen atau bahkan BUMN lainnya dan diberikan bantuan modal serta pembinaan melalui pelatihan-pelatihan pengembangan kerajinan bambu.

Dengan demikian masyarakat yang menjadi Mitra Binaan BUMN tersebut akan bisa menjadi pengrajin bambu yang mendukung industri kreatif Gunungkidul dan meningkatkan ekonomi daerah melalui UMKM.

"Untuk mendukung kesuksesan program CSR tersebut dan memenuhi harapan masyarakat, Wanagama UGM sudah menyiapkan tahapan program selama 10 tahun dengan lima tahapan rencana pengembangannya yaitu, pertama, pemapaman unit percontohan hutan tanaman bambu (produksi dan konservasi), kedua, pembangunan rumah bambu untuk produksi hasil bambu dan turunannya, ketiga, pengembangan Sekolah Bambu Indonesia, keempat, pembangunan unit Inovasi Bambu Indonesia dan terakhir, pengembangan inovasi bambu lokal sebagai dasar pusat unggulan bambu Indonesia," ujar Dwiko Pambudi, Direktur Wanagama menjelaskan.

Perhatian yang diberikan oleh UGM dan Taspen tersebut laksana oase segar bagi masyarakat sekitar Wanagama di tengah himpitan ekonomi yang dirasakan banyak warga desa. Kini Hari Susanto dapat bernafas lega karena akhirnya ia dan warga desa lainnya masih punya kesempatan untuk bangkit dan membangun perekonomian di desanya.

Dengan mata berbinar, Hari pun menyampaikan harapan dan mimpinya. "Bukan tidak mungkin kalau suatu hari nanti desa kami akan dikenal sebagai produsen bambu unggulan dan menjadi kebanggaan Indonesia karena bambu," ujar Hari optimis.