DIY Miliki Potensi Besar untuk Kembangkan Wisata Kesehatan

Seminar bertajuk Mengembangkan Potensi Medical Tourism di Kawasan Jateng & DIY, di Sahid Raya Hotel, Kamis (12/3/2020). - Harian Jogja/Laila Rochmatin
13 Maret 2020 00:17 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA— Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai wisata kesehatan. Selain objek wisata yang banyak, DIY memiliki rumah sakit yang fasilitasnya lengkap.

Hal ini dibahas dalam seminar bertajuk Mengembangkan Potensi Medical Tourism di Kawasan Jateng & DIY, di Sahid Raya Hotel, Kamis (12/3/2020).
Kegiatan ini diselenggarakan Harian Jogja bekerja sama dengan Badan Otorita Borobudur (BOB) dan sejumlah instansi lainnya.

Adapun narasumber yang dihadirkan adalah Direktur Pemasaran Pariwisata BOB Agus Rochiyardi, Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo, Direktur Pendidikan dan Pelayanan RS Mata DR Yap Erin Arsianti, Ketua DPD GIPI DIY Bobby Ardyanto Setya Ajie, dengan moderator Anton Wahyu Prihartono.

Direktur Pemasaran Pariwisata BOB Agus Rochiyardi dalam kesempatan itu menjelaskan medical tourism merupakan kegiatan wisata yang dirangsang oleh keberadaan objek atau fasilitas yang diperlukan untuk mengembalikan kesehatan di daerah tujuan wisata.

Wisata jenis ini dibagi dalam beberapa klaster antara lain wisata medis, kebugaran dan jamu, wisata olahraga dan wisata ilmiah kesehatan. Ia mencontohkan keberhasilan wisata kesehatan di Malaysia karena dukungan dari berbagai pihak baik lembaga pemerintah maupun swasta.

“Dampak dari wisata kesehatan ini antara lain, dari sisi ekonomi bisa menciptakan multiplier effect untuk menumbuhkan minat investasi. Dari sisi bisnis akan memunculkan bisnis baru terkait produk kebugaran dan jamu. Selain itu masyarakat akan mendapatkan keuntungan dengan bertambahnya lapangan kerja,” jelasnya.

Adapun tahapan yang harus dilalui dalam membentuk wisata kesehatan ini antara lain, tahap pemetaan potensi wisata kesehatan di Joglosemar, kemudianya perlunya sertifikasi produk wisata kesehatan. Di sisi lain perlu adanya peningkatan kualitas dan kuantitas kompetensi dan profesionalisme pelaku wisata kesehatan, para pengelola wajib konsistensi menjalankan SOP, tata-tertib, aspek kesehatan. “Serta mempatenkan produk sebagai hak kekayaan intelektual, kolaborasi seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo menambahkan telah dilakukan uji trail di wilayah Joglosemar yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan pemetaan sumber daya tarik wisata kesehatan. Hal ini berdasarkan database katalog wisata kesehatan yang telah disusun oleh Kementerian Kesehatan RI. Lokasi uji trail wisata kesehatan di DIY adalah Merapi Farma Herbal, Kopi Klothok, Rumah Makan Jejamuran, Nurkadhatyan Spa Ambarukmo, Martha Tilaar, Taman Sari Royal Heritage Spa, dan Klinik Kopi.

Singgih menegaskan DIY memiliki potensi besar untuk berkembangnya wisata kesehatan. Dari sisi rumah sakit DIY memiliki empat yang bisa dikembangkan untuk mendukung konsep ini. Antara lain RSUP Sardjito dengan spesialis jantung, JIH memiliki fasilitas bayi tabung, RS Mata DR Yap yang secara khusus menangani mata dan tidak ada duanya. Selain itu Pemerintah DIY akan menjadikan kawasan RSUD Wates menjadi kawasan medical tourism, guna mempermudah akses akan dibangun penghubung berupa fly over dari jalan nasional ke Rumah Sakit Wates.

“Ini semua jika dikembangkan dan dikelola dengan baik layak berkompetisi dengan Singapura dan Malaysia. JIH punya fasilitas bayi tabung, misalnya diminta berhubungan dengan industri wisata, misal program bayi tabung tiga bulan, mereka bisa tinggal di sini [Jogja],” katanya.

Begitu juga soal jamu, DIY juga memiliki potensi yang besar baik dari sisi bahan baku maupun keberadaan warung yang secara khusus menyediakan jamu. Sejumlah warung jamu era terdahulu masih bisa bertahan hingga saat ini dapat ditemukan di Jogja, salah satunya di kawasan Pakualaman.

“Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat juga terbiasa dengan aneka jamu dan konon memiliki resep pusaka jamu yang menjadi favorit para Raja. Hal tersebut dapat menjadi keunggulan tersendiri karena dapat menjadi ciri khas dan branding bagi medical tourism,” ujarnya.

Direktur Pendidikan dan Pelayanan RS Mata DR Yap Erin Arsianti menyatakan pentingnya dukungan kuat dari pemerintah untuk mewujudkan medical tourism seperti halnya di Thailand yang populer dan memiliki reputasi tinggi soal bedah plastik sampai ke mengubah gender.

Rumah sakit memang memiliki peran utama, namun tidak akan bisa tumbuh tanpa dukungan pemerintah. Dalam hal ini perlu penghubung atau biro pariwisata yang berkompeten yang bisa menentukan pilihan tujuan ke rumah sakit bagi wisatawan. Tetapi bironya harus tersertifikasi termasuk pemandunya dan memastikan mereka paham soal dasar tentang kesehatan.

“Yang dicari pasien keluar negeri kualitas, cost , akses, fun, empat Inilah yang harus kita siapkan. Akses misalnya antrean panjang dan pembatasan regulasi di negara asal, harus ada kemudahan informasi dan akomodasi mudah. Kalu fun, Jogja memiliki banyak objek wisata,” ucapnya.

Ketua DPD GIPI DIY Bobby Ardyanto Setya Ajie mencontohkan salah satu bentuk skenario layanan wisata kesehatan, hari pertama bisa ke RSUP Sardjito dengan sejumlah pilihan ke tempat wisata, seperti Candi Borobudur yang di reliefnya ada cerita tentang kesehatan. Di mana nenek moyang kita terdahulu sudah sangat peduli tentang keehatan. Kemudian ahri kedua bisa riset ke rumah jamu dan kampung batik di Solo.

Menurutnya, dahulu orang luar negeri datang ke Indonesia untuk mencari rempah-rempah. Sekarang orang dari berbagai penjuru dunia datang ke Indonesia untuk mendapatkan kebugaran terbaik. “Sehingga penting dibentuk community medical tourism agar bisa duduk bersama untuk merumuskan berbagai hal termasuk pattern,” ujarnya.