Dampak Virus Corona, 10 Candi di Sleman Ditutup Selama 2 Pekan

Candi Prambanan ditutup selama dua pekan terhitung sejak hari ini Senin (16/3/2020). - Ist/BPCB DIY
17 Maret 2020 04:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Guna mengantisipasi penyebaran Covid-19, Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Sleman dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY menutup akses 10 candi yang ada di Bumi Sembada tersebut dari kunjungan wisatawan mulai hari ini sampai dengan tanggal 29 Maret 2020.

Kepala Dinas Pariwisata Sleman Sudarningsih mengatakan jika ia sudah mengkoordinasikan penutupan kesepuluh candi tersebut diantaranya candi Sambisari, Gebang, Kalasan, Ijo, Barong, Sari, Kedulan, Banyunibo, dan Ratu Boko, dan Prambanan dengan BPCB DIY.

Penutupan ditujukan untuk menekan penyebaran Covid-19 di lingkungan cagar budaya. Kedelapan candi mulai dari Sambisari sampai Banyunibo dikelola oleh Pemkab Sleman sedangkan, Candi Prambanan dan Ratu Boko dikelola oleh Taman Wisata Candi.

"Kami telah melakukan koordinasi terkait penutupan candi, pihak BPCB sudah menjelaskan bahwa obyek tersebut dilakukan pembatasan kunjungan. Untuk sementara waktu sampai dua pekan ke depan ditutup dari kunjungan wisatawan tetapi masih dibuka untuk kegiatan-kegiatan penelitian bagi mahasiswa," ujar Sudarningsih, Senin (16/3/2020).

Lebih lanjut, Sudarningsih mengatakan jika kebijakan tersebut dijelaskan oleh Kepala BPCB DIY Zaimul Azzah saat rapat koordinasi dengan Dispar Sleman Senin (16/3/2020) pagi. Pembatasan ini ditempuh sesuai dengan imbauan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI melalui surat yang ditandatangani oleh Sekjen Kemendikbud yang intinya seluruh pejabat di lingkungan Kemendikbud bertanggungjawab atas pencegahan dan penanganan Covid-19 di pelayanan unitnya.

"Pembatasan kunjungan baru kami informasikan baik melalui situs resmi dari BPCB DIY dan juga media sosial yang dikelola Dinas Pariwisata Sleman," tutupnya.

BPCB DIY

Kepala Unit Penyelamatan, Pengembangan dan Pemanfaatan BPCB DIY, Muhammad Taufik mengatakan jika upaya penutupan candi juga merupakan upaya dari BPCB untuk melindungi sejumlah staf yang bertugas di lingkungan candi. Ditakutkan, lanjut Taufik, pengunjung ada yang terinfeksi virus Covid-19 dan menularkannya ke petugas candi.

"Penyebarannya kan dari interaksi, kita lebih mementingkan keselamatan teman-teman yang bertugas di lapangan, di sana kan ada satpam dan juru pelihara yang setiap saat berinteraksi dengan pengunjung," jelasnya.

Demikian juga dengan upaya penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa atau akademisi yang ingin melakukan kegiatan penelitian di sepuluh candi tersebut juga sementara waktu ditutup. Namun, ia dan jawatannya tetap mengizinkan jika penggalian data dilakukan di kantor BPCB DIY.

"Kalau hanya wawancara di kantor tidak masalah, tapi kalau perizinan seperti kegiatan pemanfaatan, pee wedding, dan sebagainya kita setop dulu sementara waktu, ini juga dalam untuk mentaati imbauan dari Presiden agar semua waspada, ini merupakan upaya antisipasi dari BPCB," tutupnya.