Debit Air Jadi Masalah dalam Pelayanan Spamdus

Ilustrasi. - Reuters/Mike Hutchings
18 Maret 2020 22:27 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Paguyuban Pengelola Air Minum Masyarakat Yogyakarta (Pamaskarta) mendata ada 238 sistem Penyediaan air minum dusun (spamdus) di Gunungkidul. Meski demikian, dari jumlah itu ada tujuh spamdus yang tak beroperasi karena sumber air mati.

Ketua Pamaskarta Gunungkidul, Damanhuri, mengakui keberadaan spamdus mayoritas berjalan dengan baik. “Dari 238 unit yang terdata, ada tujuh yang mati dan kesemuanya berada di wilayah zona selatan Gunungkidul,” kata Damanhuri kepada wartawan, Rabu (18/3/2020).

Menurut dia, matinya spamdus banyak yang disebabkan karena debit air dari sumur air dalam telah mati sehingga tidak bisa digunakan. Menurut dia, keberadaan sumber air ini sangat krusial karena menjadi faktor penting terhadap pelayanan kepada pelanggan. “Debit air sering menjadi masalah khususnya saat kemarau karena potensinya berkurang sehingga berpengaruh terhadap pelayanan kepada masyarakat,” katanya.

Damanhuri mengatakan jajarannya terus mendata pembaruan data terkait dengan spamdus di Gunungkidul. Ia mengakui keberadaan spamdus ini sangat penting untuk memberikan fasilitas layanan air bersih di masyarakat.

Menurut dia, dari sisi geografis terdapat perbedaan karakter air di wilayah selatan dan utara Gunungkidul. Khusus untuk daerah selatan, keberadaan air banyak tersimpan di luweng yang memiliki kedalaman hingga ratusan meter sehingga butuh biaya besar untuk pemanfaatannya. “Kalau di zona selatan relatif lebih mudah dan untuk mendapatkan sumber potensinya lebih banyak,” katanya.

Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi, mengatakan keberadaan spamdus sangat membantu Pemkab dalam memberikan pelayanan air bersih ke masyarakat. “Selain PDAM, ada juga spamdus di masyarakat yang bisa menjadi sarana mendapatkan air bersih. Untuk spamdus, persentasenya mencapai 15 persen hingga 20 persen,” katanya.

Menurut dia, keberadaan spamdus di Gunungkidul berkembang dengan pesat. Ia berharap fasilitas ini bisa dijaga sehingga dapat berfungsi secara optimal dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. “Selain memperhatikan sisi pemeliharaan, pengelola juga harus mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas dalam pelayanan. Potensi sumber yang dimiliki harus benar-benar dimanfaatkan sehingga tidak ada air yang terbuang sia-sia,” katanya.