Jumlah Wisatawan Jip Merapi Turun 70%

Gunung Merapi mengalami erupsi pada Selasa (3/3/2020). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
19 Maret 2020 08:07 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMANJip wisata merapi (lava tour) juga terkena imbas merebaknya virus Corona (Covid-19) di DIY. Berdasarkan catatan dari asosiasi jip wisata lereng merapi (AJWLM) sisi timur kunjungan wisatawan kebanyakan berasal dari luar daerah. 

Ketua Asosiasi Jip Wisata Lereng Merapi (AJWLM) sisi timur Bambang Sugeng mengatakan jika penurunan wisatawan bahkan mencapai 70% jika dibandingkan hari hari sebelumnya. Banyak wisatawan yang sebelumnya sudah berencana untuk menghabiskan waktu liburannya di objek wisata jip merapi terpaksa membatalkan rencananya.

"Sejak Sabtu [14/3/2020] lalu pengunjung yang datang masih normal, namun hari Minggu [15/3/2020] keesokan harinya sudah banyak yang cancel, selanjutnya berturut-turut hari Senin [16/3/2020] juga sudah banyak yang cancel, bahkan hari ini ada dua grup yang juga cancel, komunitas jip lain juga mengeluhkan hal yang sama," ujar Bambang, Rabu (18/3/2020).

Ketika disinggung mengenai dampak dari penutupan objek wisata alam yang dilakukan oleh Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM), Bambang mengaku jika kebijakan tersebut justru bukan menjadi faktor atas menurunnya jumlah kunjungan ke lereng Merapi.

"Dari AJWLM juga maklum karena kebanyakan wisatawan berasal dari luar daerah. Wisatawan mungkin punya kebijaksanaan untuk tidak berpergian. Memang sangat berpengaruh sekali terhadap pendapatan pelaku wisata jip wisata merapi, untuk itu kami [AJWLM] sangat berharap masalah Corona bisa segera teratasi," ungkap orang nomor satu di AJWLM sisi timur ini.

Lebih lanjut, Bambang hanya bisa pasrah menerima keadaan yang ada dan terus melakukan update terkait dengan perkembangan Covid-19 ini. 

"Walaupun Jogja belum lockdown, kebanyakan tamu kami [AJWLM] berasal dari luar daerah yang mungkin sudah menetapkan lockdown, oleh karena itu masyarakat di luar Jogja banyak yang memutuskan untuk tidak keluar rumah," terangnya.

Dinas Pariwisata Sleman

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Sleman Sudarningsih mengimbau agar pelaku wisata memperhatikan aspek higienitas baik untuk para pelaku itu sendiri maupun fasilitas untuk tamu. 

"Kami mengimbau agar para pelaku menyediakan media dan tempat cuci tangan ataupun hand sanitizer yang memadahi. Dan kami juga mengimbau kepada seluruh wisatawan agar memperhatikan etika dalam bersin atau batuk untuk menutup dengan lekukan siku lengan atau ditutup dengan tissue dan dibuang pada tempat sampah yang tertutup," ungkapnya.

Lebih lanjut, Sudarningsih juga sangat berharap kepada seluruh pengelola wisata yang ada di Bumi Sembada untuk melakukan deteksi dini Covid-19 terhadap pengunjung maupun pemandu. Apabila memang terlihat gejala diharapkan segera diperiksakan ke rumah sakit rujukan dan menggunakan masker.

Ia juga mengimbau agar wisatawan tidak meludah sembarang tempat. "Saya kira untuk menekan penyebaran virus Covid-19 perlu disiplin atas perilaku dari kita semua, pengelola obyek wisata dan desa wisata juga kami imbau agar menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Salah satunya dengan mencuci tangan dengan sabun dan air bersih secara rutin," tutupnya.