Corona, Guru PAUD Ciptakan APE Parpaduan Digital dan Konvensional untuk Belajar di Rumah

Guru Satuan PAUD Sejenis (SPS) An Nurumi, Candisari, Kalasan, Sleman, Fefin Dwi Setyawati memamerkan inovasi APE perpaduan digital dan konfensional. - Ist
19 Maret 2020 15:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Banyaknya sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang meliburkan sekolah akibat wabah Corona, perlu didukung oleh kreativitas orangtua. Tujuannya agar anak tidak bosan belajar di rumah. Salah satunya dengan membuat Alat Permainan Edukasi (APE).

Guru Satuan PAUD Sejenis (SPS) An Nurumi, Candisari, Kalasan, Sleman, Fefin Dwi Setyawati pun menciptakan inovasi APE perpaduan digital dan konfensional. APE tersebut berupa dongeng animasi bertema peduli lingkungan dan game (permainan) tong sampah pintar dan botol kreatif.

"Dongeng animasi dibuat layaknya film kartun berdurasi pendek menggunakan aplikasi video editing, dengan dubber [pengisi suara] sendiri, sehingga familiar di telinga anak-anak," katanya, Kamis (19/3/2020).

Dia mengaku terinspirasi membuat APE tersebut setelah merebaknya Corona sehingga selama 14 hari anak-anak belajar diminta belajar di rumah. "Kebetulan saya hobi video editing. Dongeng animasi ini saya buat dengan durasi tujuh menit, menggabungkan gambar-gambar karakter binatang yang lucu," katanya.

Dongeng animasi yang ia buat di-share di group whatsapp wali murid untuk sarana pembelajaran anak di rumah. Dongeng, katanya, merupakan metode yang efektif untuk menyampaikan pesan kepada anak-anak PAUD. "Selain sebagai sarana belajar anak di rumah, ini sekaligus inovasi saya menjawab tantangan sebagai pendidik," katanya.

Fefin menjelaskan, dongeng animasi tidak berdiri sendiri, namun sebagai pengantar bermain permainan tong sampah pintar dan botol kreatif. Tong sampah pintar terbuat dari kardus bekas dengan hiasan contoh sampah. Misalnya, untuk sampah organik dengan daun kering dan non organik dengan botol dan plastik bekas. Dengan demikian anak - anak langsung bisa memilah sampah organik dan non organik dengan benar,

“APE yang saya buat sepaket. Ini adalah permainan yang menggabungkan antara digital dan konvensional,” terang Fefin yang pernah meraih juara II Pendidik PAUD Non Formal Berprestasi Tingkat Kabupaten Sleman Tahun 2019 ini.

Selanjutnya anak distimulasi kreatifitasnya dengan membuat karya dari sampah yang sudah dipilah. Di antaranya membuat kerajinan pot bunga dari botol plastik bekas dengan cara yang mudah dan aman, kemudian di warnai dengan cat. Selain itu, anak diajak membuat wayang kardus berhias kulit bawang kering, sampah yang banyak terdapat di Dukuh Bendan yang merupakan sentra Ayam Goreng Kalasan. Wayang tersebut selanjutnya digunakan untuk bermain peran sebagaimana karakter dalam dongeng animasi,

"Kalau botol kreatif dibuat dari botol plastik bekas, karet sendal bekas, kawat, dan gunting. Ini alat mekanik sederhana pemotong kulit buah pisang yang mudah digunakan anak dan tidak membuat tangan kotor. Kulit buah pisang yang sudah dipotong kemudian dibuat pupuk organik,” ujarnya.

Pada akhir permainan anak-anak diajak menanam pohon dengan memanfaatkan hasil karya pot dari botol plastik bekas dan pupuk organik dari kulit pisang yang sudah dipotong dan dicampur bahan lainnya yaitu gula merah, cucian beras dan larutan Em4. "Setelah selesai bermain, diakhiri dengan cuci tangan dengan sabun untuk mencegah Corona. APE tong sampah pintar dan botol kreatif, juga sangat sederhana, sehingga bisa dibuat orang tua di rumah," ujarnya.

Sementara itu, salah seorang wali murid, Peny Arum Fatmawati, 30 warga Krajan, Tirtomartani, Kalasan, mengaku dongeng animasi dan permainan yang diciptakan Fefin, sangat menarik dan bermanfaat untuk anaknya. Selama di rumah, anaknya, Astagina Lituhayu yang masih berusia empat tahun, tetap semangat belajar di rumah. Ia juga rajin mencuci tangan.

"Sebagai wali murid saya sangat berterimakasih kepada Bu Fefin yang telah menciptakan dongeng animasi yang membuat Gina jadi sadar membuang sampah dengan baik, mencuci tangan dan kreatif," pungasnya. *