Khawatir Terinfeksi Covid-19, Puskesmas di Bantul Kewalahan Layani Pasien Batuk dan Flu

Ilustrasi. - Antarafoto
22 Maret 2020 07:17 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL-Sejumlah puskesmas di Bantul kelabakan menghadapi lonjakan pasien sejak beberapa hari terakhir. Hal ini merupakan dampak dari wabah virus Corona yang merebak di berbagai wilayah sehingga banyak pasien yang memeriksakan diri. Sayangnya petugas medis dan alat pelindung diri bagi petugas medis masih minim.

Kepala Puskesmas Sewon II, Kuncoro mengatakan kenaikan pasien mencapai 50 persen dari normalnya. Padahal biasanya hanya 250-300 orang dalam sehari. "Pengunjung yang mengalami keluhan batul paling banyak. Ditambah lagi sekarang memang sedang musim flu," kata Kuncoro, saat dihubungi Sabtu (21/3/2020).

Menurut dia keluhan batuk dan flu itu sebenarnya belum tentu mengarah ke Coronavirus Disase 2019 (Covod-19). Namun kondisi itu diakuinya sangat wajar sebagai bentuk antisipasi dini dari masyarakat. Pihaknya tetap melakukan pelayanam seperti biasa dan melakukan pemetaan tiap keluhan penyakit yang dialami tiap pasien.

Petugas medis akan memonitor dan tidak sembarang memberikan obat pada pasien yang mengalami keluhan batuk dan flu tersebut, karena dikhawatirkan jika mengarah pada Covid-19 akan semakin sulit terdeteksi. Proses monitoring dilakukan oleh tim yang baru dibentuk.

Tim tersebut dibentuk karena semakin banyak pasien yang perlu dimonitor. Pasien yang sering memgalami batuk dan flu itu diminta tidak perlu sering datang ke puskesmas karena petugas sendiri yang akan memantau secara berkala dan akan melaporkan ke dinas jika ada pasien yang mengarah ada orang dalam pemantauan (ODP).

Total tim monitor yang awalnya satu orang juga menjadi sembilan oran, "Komunikasi lewat Whatsapp supaya mengurangi kontak. Kalau ada keluhan pasien enggak usah datang tapi didatangi petugas,, dipantau secara berkala, " kata Kuncoro.

Soal alat pelindung diri atau ADP, Kuncoro mengakui masih belum mencukupi. Puskesmas Sewon II didrop tiga APD dan jumlah tersebut diakui Kuncoro hanya cukup digunakan sekali jika benar-benar ditemukan pasien mengarah ke Covid-19 kemudian dirujuk ke rumah sakit rujukan Covid-19.

Stok APD diyakininya sudah siap di Pemkab hanya butuh proses pengiriman. Pihanya berinisiatif melakukan pengadaan APB mandiri dengan cara gotong-royong tingkat puskesmas, "Saya sebagai kepala puskesmas tentu peduli pada anak buah. Saya tak mungkin menyuruh anak buah untuk berperang tanpa senjata," kata Kuncoro, soal kekurangan APD.