Warga Dusun di Sleman Ramai-Ramai Lakukan Lockdown

Sejumlah warga di dusun Besi, Sardonoharjo, Ngaglik Sleman saat menutup akses masuk ke wilayahnya, Jumat (27/3/2020) untuk antisipasi penyebaran Covdi-19.-Harian Jogja - Hafit Yudi Suprobo
27 Maret 2020 20:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Aksi ramai-ramai melakukan aksi lockdown dilakukan sejumlah dusun yang ada di wilayah kabupaten Sleman termasuk di Dusun Besi, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman.

Padahal, pemerintah pusat sampai saat ini memutuskan tidak melakukan kebijakan lockdown walaupun kasus pasien positif Covid-19 di Indonesia sudah mencapai ribuan per Jumat (27/3/2020).

Kepala Padukuhan Besi Yuliana Indrawati mengatakan jika aksi lockdown yang dilakukan oleh warganya di sejumlah dusun tersebut merupakan upaya antisipasi masuknya pendatang maupun warga yang mudik dan berpotensi membawa Covid-19.

"Upaya menutup akses pintu masuk yang dilakukan oleh warga dilakukan untuk mengantisipasi pendatang yang datang dari luar DIY terkait dengan pandemi Covid-19. Warga kan merasa khawatir. Aksi ini merupakan upaya hati-hati dari warga," ujar Yuliana Indrawati, Jumat (27/3/2020).

Seperti halnya warga di Dusun Besi yang menutup akses pintu masuknya. Dari empat pintu akses masuk yang ada, hanya satu yang dibuka untuk mendata keluar masuknya warga. Warga menutup akses jalan dan hanya menyisakan satu akses jalan untuk memudahkan pemantauan bagi siapapun yang masuk.

"Menurut laporan warga kan ada yang datang dari Jakarta, sedangkan Jakarta kan termasuk zona merah Covid-19, takutnya ada yang kucing-kucing, akhirnya akses keluar masuk hanya satu pintu, jadi nanti yang masuk akan didata, pendataan juga instruksi dari Bupati Sleman dan Gubernur DIY juga," ungkapnya.

Warga yang pulang kampung atau pendatang nantinya akan didata dan dilaporkan hasilnya ke puskemas setempat dan diminta untuk memeriksakan kondisi dirinya ke puskesmas. "Kalau misalkan berkenan langsung memeriksakan diri ke puskesmas, kalau dinyatakan sehat tetap harus karantina selama 14 hari, tidak boleh keluar rumah, ini merupakan langkah antisipatif dari warga," terangnya.

Upaya satu pintu yang dilakukan oleh warganya tersebut diakui Yuliana bertujuan agar memudahkan masyarakat dalam melakukan pemantauan bagi siapapun yang masuk ke wilayah padukuhan Besi, Sardonoharjo Ngaglik Sleman.

"Kan sudah banyak yang berasal dari luar DIY, ngakunya baik-baik saja ternyata positif Covid-19, takutnya menularkan ke warga lain, nah upaya satu pintu ini otomatis bisa melakukan pengecekan. Nanti akan kita foto KTP nya dan akan kami laporkan puskesmas dan pemerintah desa," terangnya.

Adapun, di Padukuhan Besi sendiri terdapat empat dusun. Nantinya, hanya akan disediakan satu akses keluar masuk jalan di keempat dusun tersebut guna memudahkan masyarakat untuk melakukan pemantauan. Penutupan akses jalan sendiri akan dihentikan sembari menunggu keputusan dari pemerintah yang menyatakan jika pandemi Covid-19 sudah berakhir.

Sementara itu, upaya isolasi mandiri juga dilakukan oleh Dukuh Sawungan, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem. Akses pintu masuk di Padukuhan dijaga oleh sejumlah warga.

Kepala Dukuh Sawungan, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Sutriwanto mengatakan jika akses masuk ke dalam Dukuh Sawungan hanya akan diberikan satu jalan. Namun, ia dan jawatannya tidak berlakukan penutupan total atau lockdown.

"Akses masuk dijaga oleh warga yang kami bekali dengan alat penyemprot desinfektan. Sehingga orang-orang luar yang datang akan kami semprotkan sebagai upaya untuk membuat steril warga luar itu. Tapi jika warga setempat tidak perlu dilakukan secara ketat," ungkapnya.